Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Daftar Tunggu hingga 30 Tahun, Ribuan CJH Pilih Batalkan Berangkat Haji

Damianus Bram • Selasa, 8 November 2022 | 14:00 WIB
ILUSTRASI: Daftar tunggu yang lama, ribuan CJH di Jawa Tengah pilih batalkan berangkat haji. (RADAR SOLO PHOTO)
ILUSTRASI: Daftar tunggu yang lama, ribuan CJH di Jawa Tengah pilih batalkan berangkat haji. (RADAR SOLO PHOTO)
RADARSOLO.ID – Panjangnya daftar antrean haji, memicu 8.000 calon jamaah haji (CJH) di Jawa Tengah memilih membatalkan diri berangkat ke Tanah Suci. Mereka nekat menarik kembali uang yang sudah disetorkan untuk biaya haji lantaran harus menunggu 30 tahun. Selain itu juga karena faktor usia dan sakit.

"Rata-rata mereka yang mengundurkan diri usianya rata-rata 50 tahun lebih,"
ujar Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kanwil Kemenag Jawa Tengah Ahyani, dalam kegiatan sapa jamaah tunggu haji yang digelar Kemenag Provinsi Jawa Tengah di Karanganyar, Senin (7/11) pagi.

Di wilayah Jawa Tengah, terhitung hingga November, jumlah antrean calon jemaah haji mencapai 873.562 orang. Padahal, dua pekan lalu tercatat 855.671. Artinya ada penambahan pendaftar baru.

"Untuk daftar antrean yang paling lama itu ada di luar Jawa yakni di wilayah Sulawesi Selatan yakni mencapai 45 tahun," kata Ayani.

Di bagian lain, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Karanganyar Wiharso mengatakan, dari data di Karanganyar ada 16.298 calon jemaah haji. Mereka belum belum mengambil keputusan untuk membatalkan niat mereka ke Tanah Suci.

"Alhamdulillah, sampai saat ini di Karanganyar belum ada yang membatalkan. Sempat ada pembatalan keberangkatan karena sebelumnya terkena pandemi Covid 19," kata Wiharso.

Kepala Kantor Kemenag Boyolali Hanif Hanafi mengamini banyak calon jamaah haji yang membatalkan berangkat haji. Sampai September, tercatat ada 96 calon jamaah memilih mundur. Mereka menarik uang pendaftaran haji senilai Rp 25 juta. Selain itu, ada 90 calon jamaah yang melimpahkan ke ahlì warisnya.

"Ada yang membatalkan. Alasannya masa tunggunya lama. Kemudian ada yang sakit permanen. Kemudian yang digunakan untuk kepentingan lain juga ada," jelasnya.

Hanif merinci, pembatalan haji terjadi tiap bulannya. Pada Januari pembatalan haji ada 6 jemaah, Februari 6, Maret 18 jemaah, April 8 jamaah, Mei 7 jemaah, Juni 16 jemaah, Juli 17 jamaah, Agustus 13 jemaah, September 5 jemaah. Total ada 96 jemaah yang membatalkan haji.

Sedangkan Kasi Penyelanggaraan Haji dan Umroh Kantor Kemenag Boyolali Sauman mengatakan, pembatalan haji di Boyolali cukup banyak. Namun, bukan karena masa tunggu lama. "Pembatalan ada. Tapi bukan karena masa tunggu lama. Karena calon jamaah meninggal, sakit dan ekonomi," singkatnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Surakarta Hidayat Maskur mengatakan, untuk Kota Solo tidak ada pengajuan pembatalan calon jamaah haji. Namun, untuk pelimpahan jamaah haji dari orang tua ke anak atau saudara yang lain diakui cukup banyak. Rata-Rata setiap minggu ada sekitar lima orang yang melakukan pelimpahan.

"Pelimpahan ini beda dengan pembatalan. Jadi bagi orang tua yang sudah punya hak berangkat namun tidak mampu (secara fisik, Red). Itu bisa dilimpahkan ke anaknya," ucap hidayat.

Hidayat membenarkan, banyaknya calon jamaah haji yang mengundurkan diri kemungkinan karena lamanya daftar tunggu. Hal ini lantaran jumlah kuota calon jemaah haji tahun ini masih mengacu pada jumlah kuota jamaah haji saat pendemi yakni, hanya 50 persen dari kuota sebenarnya. Hal itu memicu penumpukan jumlah jemaah haji, sehingga membuat jangka waktu tunggu yang semakin lama.

"Kuota yang diberangkatkan itu menghitungnya masih dengan sistem tahun ini. Jadi antreannya semakin panjang, iya pasti. Kami berharap  pada 2023 bisa dikembalikan ke kuota normal sekitar 230 ribu," imbuhnya.

Guna meminimalisasi adanya pembatalan, Hidayat mengungkapkan, Korwil Kemenag Surakarta selalu memberikan imbauan dan arahan agar tidak membatalkan haji. Namun, bisa dilimpahkan kepada anak atau suadara yang bisa meneruskan. Dia juga berharap agar kuota jumlah jamaah haji bisa kembali normal seperti sebelum pandemi.

"Kalau kuota kembali normal, pasti akan pulih. Tapi kalau kuota tetap dihitung separo, memang terlihat lama. Karena memang kami masih menggunakan kuota pandemi, dan belum menggunakan kuota resmi dari Arab Saudi," tandasnya. (rud/rgl/ian/bun) Editor : Damianus Bram
#calon jamaah haji #cjh #Kemenag Jawa Tengah #Pembatalan Haji #CJH Batal Berangkat