Yanto, 56, dan istri masih membersihkan sampah nasi bungkus yang masih berserakan di sekitar angkringan miliknya. Meski sudah mengumpulkan dua kantong sampah ukuran besar, sampah itu tampak tidak ada habis-habisnya sekalipun para jamaah haul sudah beranjak meninggalkan Masjid Riyadh.
Yang cukup mengherankan adalah raut sumringah dari si pemilik angkringan yang berlokasi tak jauh dari lokasi utama haul itu. Yanto dan istri tidak tampak lelah meski dua hari harus meladeni banyak orang yang bergantian mampir ke angkringan miliknya.
"Nggak capek karena pemasukannya lumayan. Jauh dari hari biasanya. Ini sehari bisa 500-700 ribu. Alhamdulillah, berkah," kata dia.
Yanto merupakan pedagang angkringan yang sehari-hari memang berjualan di sekitar dekat Masjid Riyadh. Momentum Haul Habib Ali memang jadi waktu panen yang dinanti tiap tahunnya. Dia pun sampai rela bergantian untuk tidak balik ke rumahnya di Semanggi demi melayani pembeli yang datang silih berganti itu.
"Ini paling ramai, balik seperti zaman sebelum pandemi," kata dia.
Bukan hanya pedagang angkringan yang mendapatkan berkah tambahan penghasilan, sejumlah pedagang aksesoris juga sama larisnya. Termasuk warung makan maupun hotel-hotel di sekitar lokasi.
"Kalau haul memang tiap tahun ramai. Warung saya juga banyak yang datang," kata Jayanti, warga Gajahan yang jaraknya hampir 1 kilometer dari lokasi haul.
Penginapan dan homestay pun laris manis dipasarkan. Namun yang paling menjanjikan adalah usaha perparkiran yang mayoritas dikelola masing-masing wilayah. Bahkan bisa samlpi jutaan rupiah dalam sehari.
"Toilet umum juga laris. Bisa Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta sehari. Dikelola warga sendiri. Tapi paling laris ya parkir, saya yakin di lokasi yang lebih dekat dengan Masjid Riyadh atau di jalan utama pasti bisa jutaan rupian dalam sehari," kata warga lainnya, Ari Widodo.
Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka mengatakan, acara haul ini bisa memberikan banyak manfaat bagi warga Solo. Meski begitu ke depan memang perlu dilakukan penataan agar pelaksanaan lebih baik.
"Ramai sekali, menggerakkan ekonomi. Hotel, restoran, wedangan, luar biasa sekali. Dari yang besar sampai yang kecil semua laris. Evaluasinya sampah, kemacetan, tapi sing penting acaranya lancar. Ke depan kita atur sampah dan PKL," kata Gibran. (ves/bun/dam) Editor : Damianus Bram