Jika pengantin putri merupakan anak raja, akan dipikul menggunakan joli jempono (tandu sebagai tempat duduk bangsawan), sedangkan pengantin laki-laki naik kuda dan diikuti para prajurit keraton.
“Dulu lewatnya dari Gladak sampai Kantor Pos ke utara lewat Jalan Pegadaian sampai Kepatihan. Kirabnya dilakukan sebelum pengantin panggih. Mungkin itu yang sedikit membedakan (dibandingkan era kekinian),” tutur Supardjo Hadinagoro, pakar budaya Jawa UNS, Senin (5/12/2022).
Saat ini, lanjut Supardjo, kirab manten dilakukan setelah panggih. Diiringi cucuk lampah, manggolo, putri domas dan lainnya. Konsep tersebut sah-sah saja, karena memang budaya sifatnya fleksibel menyesuaikan siapa penggunanya. Termasuk yang akan dilaksanakan saat ngunduh mantu pernikahan Kaesang-Erina.
Pada prosesi pernikahan ala Keraton Kasunanan Surakarta, calon pengantin melakukan sowan leluhur, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Tujuannya sebagai bentuk rasa hormat.
“Mungkin karena Mas Kaesang akan menempati Pura Mangkunegaran (sebagai lokasi resepsi), maka beliau sowan ke makam para leluhur raja-raja Pura Mangkunegaran. Tidak ada salahnya mendoakan para leluhur,” imbuhnya.
Lebih lanjut diterangkan Supardjo, prosesi ngunduh mantu dalam perkembangannya di masyarakat Jawa merupakan tali dharma, yaitu pengantin laki-laki dan perempuan datang bersama orang tua pengantin perempuan yang akan dipapak di pintu masuk oleh orang tua pengantin laki-laki. Pengantin kemudian akan diberikan minuman tirto wening dan dilakukan gebyokan.
“Pada intinya, setiap prosesi yang dilakukan sebelum pernikahan, saat pernikahan, dan setelah pernikahan semuanya memiliki simbol dan makna. Salah satunya meminta keselamatan bagi kedua pengantin,” ujar dia. (ian/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono