SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo
Ranu Asmoro, 40, yang bertanggungjawab penataan dekorasi mulai menyiapkan lokasi yang akan dia sulap sebagai singgasana untuk mempelai pria dan wanita dalam prosesi ngunduh mantu Minggu (11/12). Saat ini sejumlah perangkat keras seperti persiapan pembuatan panggung dan pemasangan level mulai dikerjakan di wajah rumah dinas wali kota itu.
“Hari pertama ini pemasangan perangkat kerasnya seperti panggung, level dan sebagainya. Hari kedua baru display untuk artistiknya. Hari ketiganya baru instal bunga biar awet segarnya,” kata dia, Kamis (8/12).
Disinggung soal konsep dekorasi yang akan diusung dalam upacara ngunduh mantu itu, Ranu sengaja membuat sebuah level berbentuk L yang lebih tinggi daripada halaman Loji Gandrung, namun lebih pendek dari teras.
Lokasi utama kedua mempelai dan keluarga akan berada di teras Loji Gandrung, di bawahnya akan ada level berbentuk L lengkap dengan karpet warna merah yang di kanan kirinya dihiasi dengan berbagai dekorasi bunga segar.
“Acara di Loji Gandrung ini ada sungkeman, foto bersama, upacara tumplak punjen, hingga nyebar udik-udik. Karena itu sengaja kami buat berlevel agar ketinggiannya berbeda dengan hadirin di sekitarnya. Selain itu level berbentuk L ini juga berfungsi sebagai sarana untuk mempermudah sebelum mempelai dan keluarga naik kereta kuda (kirab manten),” papar Ranu.
Soal tema dekorasi, dia memastikan bahwa dekorasi itu kental dengan nuansa Jawa klasik. Yang berbeda dengan pernikahan dengan tema Jawa klasik pada umumnya adalah hadirnya gebyok dengan ukiran flora dan fauna.
Rabu berani mengklaim Kaesang-Erina merupakan satu-satunya pengantin yang gebyoknya berukiran flora dan fauna.
“Unsur kebaruannya di sini, gebyok flora dan fauna ini baru pertama ini dipakai. Keunikan lainnya adalah dalam menggabungkan motif ukir gaya Jogja dan Solo. Motif ukir Jogja yang lebih sederhana dipakai di ukiran flora, sementara motif ukir Solo yang lebih rumit dipakai di ukiran fauna. Ornamen ukir perpaduan dua daerah ini benar-benar hal yang baru,” ucap dia.
Ukiran gebyok flora dan fauna itu nanti akan tampak selaras dengan berbagai dekorasi jawa klasik lainnya. Seperti adanya penjor di bagian depan, mrajak sewu (punden yang dilapisi daun jati, bambu, lombok, dan cengkir gading, Red). Kemudian ada kembar mayang, dan tuwuhan. Inilah yang membuat tema dekorasi jawa klasik akan cukup kental terlihat dalan pernikahan putra bungsu Presiden Joko Widodo itu.
“Temanya memang jawa klasik, tapi pendekatannya sudah masuk ke kontemporer dari ukiran dan lainnya,” terang Ranu.
Dekorasi lain yang tidak kalah menarik adalah seni merangkai atau penataan bunga. Dalam pernikahan Kaesang-Erina itu dekorasi floris akan didominasi nuansa putih yang dihadirkan dalam aneka kembang berwarna senada agar tampilan makin selaras. Ribuan ikat bunga segar ini didatangkan langsung dari berbagai daerah seperti Malang, Surabaya, dan Jakarta.
“Dekorasi bunga nuansa putih seperti anggrek bulan, casablanca putih, mawar belanda, melati, sedap malam, baby breath, serta berbagai jenis daun potong lainnya. Sengaja kami display terakhir untuk mempertahankan kesegarannya. Nanti kami pasang malam terakhir sebelum acara,” beber dia.
Jika pada pernikahan Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution 2017 lalu dekorasi floris dipenuhi bunga sedap malam, pada pernikahan Kesang-Erina akan didominasi oleh kehadiran anggrek bulan dan melati.
“Anggrek bulan dan melati ini keremenan (Kesukaan, Red) Ibu Negara (Iriana Joko Widodo),” jelas Ranu.
Sebelumnya, juru bicara keluarga Gibran Rakabuming Raka membenarkan adanya sejumlah prosesi yang akan dilakukan di Loji Gandrung sebelum kedua mempelai melakukan kirab manten menuju Pura Mangkunegaran untuk giat tasyakuran pernikahan.
“Di Loji dulu lalu dilanjutkan kirab ke Pura Mangkunegaran. Di sepanjang rute kirab akan ada panggung hiburan untuk masyarakat juga,” kata dia. (ves/bun) Editor : Damianus Bram