Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Prosesi Siraman, Selain Pengantin Perempuan Juga Bisa Dijalani Pengantin Laki-Laki

Damianus Bram • Jumat, 9 Desember 2022 | 14:40 WIB
Budawayan Raden Surojo Inung R. Sulistyo
Budawayan Raden Surojo Inung R. Sulistyo
RADARSOLO.ID - Soal prosesi siraman sebelum ijab kabul, pegiat sejarah dan budaya Raden Surojo mengatakan, selain pengantin perempuan, pengantin laki-laki juga menjalani prosesi siraman.

“Hanya saja yang ditonjolkan pengantin perempuan,” jelas Pegiat Sejarah dan Budaya Raden Surojo kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (8/12).

Upacara siraman juga memiliki filosofi untuk meluruhkan segala hal negatif dari tubuh calon pengantin. Sehingga prosesi ini dianggap membantu proses pernikahan.

“Jadi siraman menjadi tanda bahwa pasangan pengantin bertekad bulat. Mereka siap untuk berperilaku bersih. Baik dalam perkataan, pikiran, maupu perbuatan,” tambah Surojo.

Air yang digunakan untuk siraman berasal dari tujuh sumber mata air. Kata tujuh itu dalam bahasa Jawa yaitu pitu. Pitu itu pitulungan. Artinya terselip doa agar calon pengantin ketika akan mengarungi bahtera perkawinan mendapatkan petunjuk.

Pitulungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tujuh mata air boleh diambil dari mana saja, tergantung keyakinan. Misalnya mau ambil ke Umbul Pengging atau sebagainya. Tujuh air di tempat yang berbeda tersebut akan dipadukan. Harapannya bisa menjadi satu kekuatan,” beber Surojo.

Biasanya upacara siraman dilangsungkan pada pukul 09.00-10.00 atau setelah salat Asar. Waktu-waktu tersebut sudah menjadi ketentuan yang diwariskan. “Waktu-waktu tersebut diyakini tepat untuk menghaturkan doa,” pungkas Surojo.

Ada beberapa simbol dalam upacara ini. Semuanya mengandung doa yang dihantarkan kepada Tuhan. Salah satunya uba rampe. Kemudian berbagai bunga dan dua buah kelapa yang dimasukkan ke air siraman.

“Jarik yang digunakan juga harus mengandung doa,” imbuh Surojo.

Prosesi siraman diawali dengan orang tua menjemput pengantin yang sudah menggenakan pakaian adat. Setelah keluar dari kamar, calon pengantin biasanya sungkem dulu kepada orang tua mereka.

Kemudian digandeng menuju tempat siraman. Di belakangnya ada pinisepuh yang membawa uba rampe, padupan, jarik, handuk, dan lainnya.

“Kemudian pengantin duduk, ayahnya mulai melakukan siraman yang pertama dengan doa terlebih dahulu menggunakan gayung atau siwur yang pakai tempurung kelapa,” lanjut Surojo.

Baru dilanjutkan oleh sang ibu. Terakhir itu pinisepuh atau juru rias. Namun biasanya juru rias hanya mengatur saja.

“Setelah itu sesepuh mengucurkan air di dalam kendi. Dikucurkan tiga kali pada wajah, leher, telinga, tangan. Kemudian kendi dipecah sambil mengucapkan wis pecah pamore. Setelah itu selesai, dibersihkan dan dibawa ke kamar pengantin,” jelas Surojo. (ves/nis/bun) Editor : Damianus Bram
#Budawayan Raden Surojo Inung #Erina S Gudono #Pegiat Sejarah dan Budaya Raden Surojo #Prosesi Siraman #Upacara Siraman #Pernikahan Kaesang-Erina #Kaesang Pangarep