Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Menjaga Eksistensi Becak, dari Angkutan Umum ke Wisata 

Damianus Bram • Senin, 19 Desember 2022 | 14:00 WIB
IKON BARU: Becak transportasi tradisional yang sudah tengah mengantar wisatawan di kawasan Keraton Kasunanan Surakarta. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
IKON BARU: Becak transportasi tradisional yang sudah tengah mengantar wisatawan di kawasan Keraton Kasunanan Surakarta. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Sebagai moda transportasi tradisional, becak kayuh terbukti sebagai salah satu jenis transportasi yang memiliki eksistensi cukup lama karena bisa bertahan hingga hari ini meskipun daya tariknya tak seperti puluhan tahun lalu, saat pilihan transportasi publik belum banyak seperti sekarang. Di era digital saat ini, para penarik becak hanya mengandalkan pelanggan setia yang kebanyakan datang dari kalangan pedagang pasar tradisional.

Ketua Forum Komunikasi Keluarga Becak Kota Surakarta Heri Setianto mengatakan dua tahun lalu ada sekitar 800 penarik becak di Surakarta pada 2020 lalu. Jumlah ini berkurang cukup banyak lantaran hanya tinggal 300 penarik yang masih eksis hingga saat ini. Secara umum, jumlah penarik becak di Solo mulai mengalami penurunan sejak tahun 80-an hingga saat ini. Namun penurunan tajam mulai terlihat sejak 2010 dan yang paling parah sejak 2020 dimana transportasi berbasis online makin marak di Indonesia, termasuk di Surakarta.

“Tahun 96-97 itu pendapatan dari becak masih bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup untuk satu keluarga, karena masih selalu dapat penumpang waktu itu. Makin sulit saat harus bersaing dengan transportasi online beberapa tahun terakhir ini. Dulu sehari bisa sampai Rp 100 ribu sehari, saat ini paling sehari hanya 2-3 kali tarikan saja,” kata dia.

Alasan utamanya karena dari segi fisik, kondisi becak memang sudah banyak yang perlu sentuhan perbaikan agar lebih nyaman dinaiki penumpang. Selain itu, becak yang hanya mengandalkan kekuatan fisik manusia makin sulit bersaing dengan keefektivitasan moda transportasi lain yang lebih cepat dan efisien. Dari semua kekurangan itu, segi tariflah yang membuat becak jauh ketinggalan di belakang moda transportasi lain yang hadir dengan tarif yang terjangkau.

“Misalnya dari Benteng Vastenburg ke Keraton Kasunanan/Pasar Klewer/Batik Kauman/Pura Mangkunegaran itu Rp 15-20 ribu sekali jalan. Sementara kalau dari Benteng Vastenburg sampai Kawasan Sriwedari itu biasanya di atas Rp 20 ribu. Penumpangnya ini mayoritas pedagang yang bawa banyak barang bawaan yang tidak bisa dibawa pakai motor, namun terlalu sedikit jika diangkut naik roda empat. Penumpang lain paling wisatawan yang pengin keliling-keliling,” beber Heri.

Fakta inilah yang membuat becak sulit untuk bersaing dengan moda transportasi yang ada saat ini. Selain karena fisik armada yang sudah cukup berumur, tarif operasional tidak bisa ditekan hingga bisa bersaing karena masih mengandalkan tenaga manusia yang sangat terbatas kekuatannya.

Tingkat keefektivitasan becak juga sulit unjuk menjadikannya pilihan pertama untuk berpergian, belum lagi usia para pengemudi yang rata-rata sudah cukup tua juga jadi kendala utama menurunnya peminat moda transportasi jenis ini. Oleh sebab itu, para pengemudi becak menyambut baik jika ada upaya dari Pemerintah Kota Surakarta untuk terus melestarikan becak kayuh di masa mendatang.

“Sudah ada komunikasi dengan pemerintah dan anggota dewan. Nantinya akan dikonsep sebagai transportasi wisata dengan tarif yang sudah ditentukan dan SOP lainnya. Nantinya fisik armada maupun pengemudi becak akan dibuat lebih baik dengan seragam khusus untuk pengemudinya. Kelihatannya awal tahun ini bisa mulai diterapkan, nanti percontohannya para pengemudi becak di kawasan Benteng, fungsinya hanya untuk mengangkut wisatawan,” terang dia.

Konsep becak wisata ini diharapkan memberikan hasil yang baik sehingga bisa diterapkan untuk keberlangsungan di masa mendatang. Para penarik becak kayuh di Solo pun yakin dengan konsep itu mengingat hal semacam itu pernah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, utamanya saat mereka dipesan khusus oleh keluarga Presiden Jokowi untuk mengangkut sejumlah tamu undangan saat hendak menghadiri pernikahan Gibran Rakabuming-Selvi Ananda pada 2015, Kahiyang Ayu-Bobby Nasution pada 2017, hingga yang terbaru saat pernikahan Kaesang Pangarep-Erina Gudono pada 11 Desember 2022 lalu.

“Konsep ini sudah dijajal waktu pernikahan putra-putri Presiden Jokowi, makanya kami setuju saja saat ditawari oleh pemerintah kota. Harapan kami pendapatan pengemudi becak bisa lebih baik karena tidak perlu lagi bersaing dengan trasportasi lainnya seperti ojek online, taksi online, juga bus dan angkutan kota,” hemat Heri.

Sementara itu, Pemkot dan DPRD Kota Surakarta sedang intens membahas Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Perhubungan. Di mana yang dibahas adalah pemanfaatan kendaraan mobil listrik, becak, dan andong untuk menunjang destinasi wisata.

Ketua Pansus Raperda Perhubungan Roy Saputra menjelaskan, fokus pembahasan kali ini masih pada penentuan trayek yang nanti akan dilalui kendaraan tersebut.

"Nanti yang menentukan (trayek) dari dishub. Masih dalam kajian. Harapan kita yang jalannya aman dan nyaman dan intensitas kendaraan umumnya tidak ramai. Kemudian banyak ikon-ikon wisata di Solo," ungkap Roy.

Soal ada subsidi atau tidak untuk pembenahan becak dan andong akan dibahas selanjutnya. “Tapi kami usahakan ada, apalagi ini untuk kemajuan wisata kita," ujar Roy.

Wakil Ketua DPRD Kota Surakarta Sugeng Riyanto menuturkan melibatkan para pengayuh becak ini tidak hanya dari perspektif pariwisata, tapi juga ada sisi mengangkat eksistensi para pengayuh becak ini agar memiliki penghasilan tetap dan berkontribusi bagi pariwisata di Kota Solo.

“Apabila mas wali ingin menjual pariwisata Solo hingga kancah internasional, berarti akan sangat menunjang tukang becak ini ada pembekalan bahasa Inggris dasara. Sekadar menjelaskan harga, memberi salam, menjelaskan destinasi wisatanya. Simpel conversation saja, maka akan lebih berkesan,” ujarnya.

Kemudian, dari aspek pelayanan, para pengayuh becak harus memberikan layanan yang baik bagi penumpang. Sehingga masyarakat yang menggunakan becak akan senang. Misalnya cara abang becak mempersilakan naik dan turun,  ngobrol selama perjalanan. Itu bagian dari pelayanan yang sebaiknya ada standarisasi.

Berikutnya tidak hanya becak, pemkot juga harus menggandeng kusir andong. Sebab, andong juga mempunyai nilai secara historis, di mana andong ini juga mulai tergerus dengan modernisasi. Padahal andong dan becak ini ramah lingkungan.

“Agar program ini lebih optimal, pemkot juga bisa menggandeng hotel-hotel di Solo. Bisa dengan paket perjalanan dari hotel ke tempat wisata. "Bisa satu atau lebih destinasi, jadi nanti berangkat dari hotel bisa menggunakan becak atau andong," ujarnya.  (ves/atn/bun) Editor : Damianus Bram
#moda transportasi tradisional #Transportasi Tradisional #becak pariwisata khas Solo #Becak Transportasi Wisata #Becak di Kota Solo #Becak Wisata