Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Di Balik Dinding Keraton Kasunanan Surakarta, Masih Ada Kawasan Kumuh

Damianus Bram • Senin, 9 Januari 2023 | 13:30 WIB
Kondisi rumah di kawasan Baluwarti Kompleks Keraton Kasunanan Surakarta. Di area cagar budaya ini masih banyak terdapat kawasan kumuh. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
Kondisi rumah di kawasan Baluwarti Kompleks Keraton Kasunanan Surakarta. Di area cagar budaya ini masih banyak terdapat kawasan kumuh. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID – Kelurahan Baluwarti menjadi satu-satunya wilayah kelurahan berstatus cagar budaya di Kota Bengawan. Ini tidak bisa dilepaskan dari lokasi kelurahan ini yang berada di kawasan Keraton Kasunanan Surakarta. Namun, di balik status cagar budaya itu ada rumah-rumah warga yang kondisinya memprihatinkan dan butuh penanganan segera.

Dilihat sekilas, kawasan cagar budaya Baluwarti cukup bersih dan tertata rapi. Jalanan melingkari keraton sudah dipaving, banyak penjaja kuliner khas dan terdapat sejumlah sangar seni. Membuat siapa saja betah berlama-lama saat berada di kawasan ini.

Namun di balik itu semua, ada permukiman padat penduduk dengan aksesbilitas jalan lingkungan yang cukup kecil sehingga sulit untuk dimasuki kendaraan roda empat. Tak hanya itu, ada juga lingkungan permukiman padat yang hingga saat ini terdapat puluhan kepala keluarga (KK) masih mengandalkan MCK umum sejak wilayah itu dihuni.

“Meski masuk kawasan cagar budaya Baluwarti. Tapi kawasan ini tidak lepas dari kekumuhan. Pada 2018 SK kawasan kumuh di Baluwarti memang telah dicabut. Tapi bukan berarti sudah tuntas, tapi karena sulit disentuh,” terang Koordinator Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) Aditya Fahrudin kepada Jawa Pos Radar Solo, Minggu (8/1/2023).

Aditya lantas mengajak berkeliling untuk melihat kondisi di balik tembok-tembok kokoh di kawasan cagar budaya itu. Jika diamati, rumah-rumah di kawasan Baluwarti di bagi dalam tiga bentuk yang paling mudah diperhatikan. Pertama, hunian yang hingga saat ini masih ditempati oleh keluarga besar keraton maupun keturunan pejabat keraton.

Bangunan-bangunan yang masih dihuni umumnya lebih terawat ketimbang hunian masyarakat biasa lainnya. Kedua, hunian warga yang turun-temurun menetap di kawasan Baluwarti. Mereka dulunya dipercaya sebagai pejabat kelas menengah. Secara umum hunian seperti ini ada di balik pintu-pintu besar dengan daun pintu jadul warna biru.

Di lokasi ini biasanya ada satu hingga tiga hunian di dalamnya. Secara umum lokasinya masih lebih terawat meskipun akses menuju rumah satu ke rumah lainnya terbilang cukup sempit. Ketiga, warga yang menempati suatu bangunan atau aset keraton yang ada di kawasan Baluwarti. Hunian ini biasanya kurang terpelihara karena hunian yang mereka bangun sejatinya merupakan bangunan baru yang dibuat atas izin keraton untuk menempati suatu wilayah itu.

“Warga ini menempati bangunan secara turun-temurun. Biasanya ada yang disertai dengan pikukuh untuk menempati suatu tempat atas izin dari keraton. Sebagian kecil mungkin masih memiliki surat pikukuh dari generasi-generasi sebelumnya, namun sebagian besar mungkin juga sudah tidak memiliki surat-surat seperti itu,” ujarnya.

Secara umum warga di Kelurahan Baluwarti itu tidak punya aset pribadi karena semuanya merupakan milik keraton. Karena itu yang bisa dilakukan hingga saat ini adalah perbaikan kecil, sementara pembenahan total belum pernah dilakukan karena status kawasan cagar budaya maka tidak sembarangan bisa disentuh perbaikan.

Salah satu lingkungan permukiman yang cukup mendesak ditangani adalah puluhan hunian di Langensari. Kawasan di wilayah RW 01 Kelurahan Baluwarti itu dulunya merupakan kandang kuda yang berhubungan langsung dengan akses masuk ke keraton dari pintu selatan.

Warga yang menghuni bangunan-bangunan rumah tinggal itu merupakan generasi kesekian dari kakek-neneknya dulu yang meminta izin kepada raja untuk bisa menempati lahan yang dulu digunakan sebagai kandang kuda itu. Mayoritas merupakan keturunan abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta.

“Ini aset keraton. Kami yang bermukim di sini meneruskan dari orang tua dulu. Jadi konsepnya itu tenggan, beda dengan yang magersari. Dulu itu areanya kosong, lalu nyuwun paliliah dari keraton agar bisa menempati lokasi ini,” terang Ketua RW 01 Baluwarti Sularjo.

Sularjo mengatakan, untuk Langensari Dalam (RT 03) sampai hari ini masih pakai MCK umum. Perlu juga pembuatan drainase baru agar bisa menampung limpahan air hujan. Termasuk jalan lingkungan yang masih berupa tanah sudah mendesak diberi paving.

Kondisi lingkungan kurang layak dengan bangunan rumah tinggal perlu pembenahan ini tidak hanya ada di RW 01 Langensari saja, namun juga tersebar di 12 RW lain di Kelurahan Baluwarti. Sedikitnya ada 200 RTLH (rumah tidak layak huni) yang butuh penanganan. Termasuk beberapa lingkungan yang perlu disentuh dengan perbaikan jalan dan fasilitas umum lainnya seperti drainase dan sebagainya.

“Dari pendataan yang kami pegang, permasalahan di Baluwarti khususnya untuk infrastruktur adalah RTLH, jalan lingkungan/kampung, drainase, hingga perbaikan pedestrian. Untuk perbaikan drainase sudah dimulai dari program Kotaku dan penataan pedestrian dari CSR tahun ini. Yang lainnya kami harap bisa segera dituntaskan pemkot,” harapnya.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Baluwarti Ikhsanudin Fajar menilai penataan kawasan Baluwarti khususnya untuk permukiman kumuh perlu disegerakan agar wilayah yang sudah memiliki status kawasan cagar budaya itu lebih sedap dipandang mata. Bukan hanya dari segi bangunan di jalan utamanya saja, namun masuk ke permukiman-permukiman warga yang ada di dalamnya.

“Potensi kelurahan ada beragam. Mulai dari pariwisata, budaya, dan UMKM-nya. Ada kuliner tradisional seperti jamu, ledre dan lainnya. Kemudian ada kerajinan wayang beber, sanggar karawitan, sanggar tari, dan masih banyak yang lainnya. Sayangnya dari segi lingkungan dan kemasyarakatan masih menyisakan permasalahan seperti rumah tidak layak huni yang belum tersentuh hingga saat ini,” ujar dia.

Soal permasalahan RTLH dan permukiman warga sejauh ini masing-masing penghuni baru bisa melakukan perbaikan kecil. Warga tidak bisa melakukan perbaikan skala besar karena terbentur dengan status cagar budaya. Selain itu, seluruh aset di Kelurahan Baluwarti merupakan milik Keraton Kasunanan Surakarta.

“Di luar itu kemampuan ekonomi warga juga berbeda satu dengan yang lainnya. Rata-rata penghuni RTLH ini memang warga kurang mampu yang memerlukan bantuan,” imbuh Ikhsan.

Penanganan Lingkungan Kumuh

Ketua Paguyuban Kampung Wisata Jeron Benteng Baluwarti Suparno mendukung penuh jika pemerintah hendak melakukan penataan-penataan di kawasan Baluwarti. Dengan demikian, warga bisa memaksimalkan potensi wisata budaya di sekitar dengan merujuk konsep wisata sejarah dan budaya keraton sebagai pusat kebudayaan yang eksis hingga saat ini. Harapannya, penataan lingkungan kumuh dan infrastruktur itu bisa memberikan dampak yang baik untuk potensi wisata budaya dan menggerakkan ekonomi warga di Baluwarti.

“Wisata sejarahnya itu potensinya dari bangunan-bangunan tua yang dikenal dengan rumah pangeran atau pejabat tinggi keraton, dikenalkan dengan paket perjalanan wisata,” ujarnya.

Kemudian ada kuliner dan kerajinan di Kelurahan Baluwarti. Sementara untuk wisata budaya ada sanggar-sanggar kesenian dan wisata religi yang  bisa dioptimalkan. Warga juga menyediakan penginapan-penginapan untuk melengkapi paket-paket perjalanan wisata tersebut.

“Ini sudah berjalan cukup lama. Dimulai dari gerakan menuju kampung wisata baluwarti saat Presiden Joko Widodo masih menjabat sebagai wali kota,” kata dia.

Lurah Baluwarti Danang Agung Warsianto menambahkan, warga Kelurahan Baluwarti telah menanti adanya penataan kawasan yang bisa memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Pihaknya berharap banyak upaya penataan bisa dilakukan segera. Tentunya penataan nanti bisa melibatkan banyak pihak seperti para ahli, masyarakat, dan keraton selaku pemilik aset.

“Jangka panjangnya Kelurahan Baluwarti bisa menjadi tujuan untuk wisata dan budaya, melengkapi Keraton Kasunanan Surakarta. Yang jelas masyarakat menantikan adanya upaya penataan yang akan dilakukan di wilayah Kelurahan Baluwarti,” tutur Danang. (ves/bun/dam)

Peta Kelurahan Baluwarti

Luasan Wilayah

Jumlah Penduduk

Jumlah RW dan RT

Potensi dan Keunikan
Editor : Damianus Bram
#Kawasan Kumuh di Baluwarti #kampung baluwarti #Penataan Baluwarti #penataan kawasan kumuh #Keraton Solo #penataan kawasan baluwarti #keraton kasunanan surakarta