KPAI melihat sisi positif lato-lato bagi anak-anak. Namun orang tua juga diminta untuk tetap mengawasi karena memang ada risikonya. Sub Komisi Pengaduan KPAI Dian Sasmita mengatakan, memainkan lato-lato secara sempurna, memang membutuhkan skill. Ini layaknya kelereng dan layang-layang. Permainan ini sejatinya membantu anak untuk terampil.
Dia menjelaskan bermain lato-lato tidak sesederhana mendengar suaranya, namun membutuhkan konsentrasi dan latihan. Dian pun menghargai keterampilan itu.
"Saya sangat menghargai keterampilan memainkan lato-lato. Karena saya pribadi memainkannya pun tak langsung bisa. Butuh koordinasi gerak tangan yang stabil dan konsentrasi. Bermain lato-lato tak sesederhana suaranya," ujarnya.
Layaknya game online, lato-lato juga dimainkan dengan serius dan sejatinya membuat anak senang. Walaupun kadang ada orang dewasa yang terganggu Ketika melihat anak-anak memainkan ini, terlebih jika dalam jumlah gerombolan cukup banyak. Diperlukan peran orang tua atau pengasuh untuk mengedukasi anak agar mainan ini tidak mengganggu.
"Setiap aktivitas anak, apapun itu, orang tua atau pengasuh wajib tahu dan menjelaskan bahaya dan resikonya. Kemudian mengarahkan anak ke arah yang positif," jelasnya.
Dian mengatakan, ada baiknya orang tua atau pengasuh mendampingi anak bermain lato-lato. Permainan ini juga sejatinya bisa mengalihkan anak dari gadget.
"Bermain lato-lato dengan anak dapat membangun kelekatan antara anak dan orang tua. Cukup 15 menit bermain dengan anak, ini akan membuat mereka menjadi anak yang lebih gembira. Karena anak merasakan kehadiran orang tuanya secara utuh," katanya.
Lebih lanjut Dian mendorong pemerintah harus bisa mewadahi fenomena lato-lato ke sisi positif untuk meningkatkan kreativitas. Menurutnya, jangan buru-buru muncul larangan bermain lato-lato.
"Pemerintah, seperti sekolah atau dinas kebudayaan atau pariwisata, dapat mewadahi kreatifitas anak terhadap lato-lato. Misalnya lomba menggambar di lato-lato, bikin instalasi dari lato-lato, atau mural bertema lato-lato. Pemerintah perlu sadari bahwa setiap anak membutuhkan dan punya hak untuk bermain. Namun apakah pemerintah setempat sudah memfasilitasi ruang bermain ramah anak?" ujarnya. (atn/nik/dam) Editor : Damianus Bram