Koordinator Komunitas Paguyuban Pasar Gede (Kompag), Wiharto menilai Pasar Gede memiliki banyak daya tarik yang bisa mendatangkan banyak masyarakat. Oleh sebab itu pedagang sengaja mencoba untuk mengeksplorasi potensi yang ada di pasar tradisional yang sudah eksis sejak 1930 tersebut.
"Pasar Gede telah menjadi ikon di Surakarta karena nilai sejarah dan budaya yang ada di dalamnya. Dari segi bangunan juga merupakan bangunan lawasan yang diresmikan secara langsung oleh Pakoe Boewono X pada 12 Januari 1930. Pembangunan dimulai dari 1927 oleh arsitek dari Belanda Thomas Karsten. Ini menjadi hal yang menarik untuk mendatangkan masyarakat selain dari segi belanja kebutuhan pokok," terangnya, Kamis (12/1/2023).
Tak berhenti di sana, Pasar Gede memiliki sejumlah kuliner legend yang namanya telah dikenal hingga luar daerah. Aspek tersebut memberikan daya tarik lain bagi masyarakat untuk datang ke Pasar Gede. Tak heran jika pasar tradisional ini mulai melirik potensi wisata yang bisa dimaksimalkan untuk mendatangkan wisatawan ke lokasi tersebut.
"Jumlah kunjungan di hari libur bisa dua kali lipat dari hari normal. Yang banyak itu kulineran, juga oleh-oleh. Kedepan bisa dimaksimalkan untuk mengenalkan Pasar Gede ke masyarakat luar kota bahkan wisatawan," beber Wiharto.
Sebagai wujud syukur atas eksistensi itu, kelompok pedagang menggelar Kembul Agung Pasar Lelangen. Acara diawali dengan pembacaan doa bersama dan ditutup pembagian 112 tumpeng kepada warga masyarakat yang berkunjung dan juga pada para pedagang. Wiharto menjelaskan, Kembul Agung adalah acara makan bersama secara besar-besaran. Sedangkan langen adalah akronim dari lestari, laris dan ngageni.
"Harapannya ini memberikan berkah secara spiritual juga memberikan semangat mereka untuk selalu bersyukur dalam kondisi apapun. Pasar Gede sampai hari ini masih bisa eksis dan sampai hari ini Pasar Gede sudah menjadi tujuan wisata sekaligus menjadi ikon Kota Surakarta," harapnya.
Sementara itu Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan, Dinas Perdagangan Kota Surakarta, Training Hartanto menilai daya tarik yang ada di Pasar Gede datang dari berbagai aspek. Bangunan kolonial yang eksis sampai sekarang itu sarat sejarah dan budaya itu telah ditetapkan sebagai salah satu bangunan cagar budaya (BCB). Selain itu, Pasar Gede telah bertransformasi dari sekadar pasar yang menyandang fungsi jual beli, menjadi salah satu pasar dengan fungsi wisata dan rekreasi yang cukup menjanjikan.
"Faktanya Pasar Gede telah menjadi pasar wisata yang didatangi oleh banyak tamu dari luar kota. Ini salah satu daya tarik yang ada saat ini," hemat Training. (ves/nik/dam)
SISI LAIN PASAR GEDE
- Dibangun 1927, dan diresmikan 1930.
- Dibangun di zaman Pakubuwono X.
- Dibangun oleh arsitek terkenal dari Belanda Ir. Herman Thomas Kartsen
- Nama resminya Pasar Gede Hardjonagoro. Kata Gede karena menyerupai benteng yang megang, sedangkan Hardjonagoro adalah nama seorang keturunan Tionghoa yang mendapat gelar KRT Hardjonagoro dari Keraton Surakarta.
- Simbol akulturasi budaya, karena berdampingan dengan klenteng tertua di Solo, Klenteng Tien kok Sie.
- 1937 rusak saat agresi militer belanda, dan bisa diambil alih pemerintah Indonesia lalu direnovasi 1949.
- Mei 1998 Pasar Gede dibakar oleh sekelompok massa yang tidak bertanggung jawab yang merasa kecewa karena tidak terpilihnya Megawati Soekarnoputri sebagai presiden.
- Sudah melewati tiga masa pemerintahan, yaitu masa kerajaan, kolonial, dan masa kemerdekaan.