Pembina Lithang Gerbang Kebajikan Adjie Chandra menjelaskan, diharapkan di Shio Kelinci, bisa lincah dalam menggapai kemakmuran, sedangkan unsur air dilambangkan sebagai rezeki yang tidak pernah putus.
Ditambahkannya, banyak kepercayaan terkait Imlek. Di antaranya identik dengan hujan. Itu karena Imlek selalu diperingati antara 22 Januari hingga 18 Februari tiap tahunya. Penentuannya menggunakan sistem kalender peredaran bulan mengelilingi bumi.
"Peredarannya hanya 29,5 hari kalau dibandingkan dengan Masehi. Ada selisih sepuluh hari. Bila penanggalan Jawa dan Arab, membuat perayaan selalu maju, untuk penanggalan ini, tidak. Sebab setiap 2,5 tahun sekali ada Lun, yaitu perpanjangan bulan. Makanya Imlek selalu jatuh pada Januari dan Februari. Pada bulan itu, kebetulan di sini (tanah air) musimnya hujan," paparnya.
Kemudian adapula tradisi saat malam detik-detik perayaan Imlek, tidak bersih-bersih rumah. Itu agar berkah yang masuk tidak tersapu keluar rumah. "Makanya sore menjelang malam Imlek, semua bersih-bersih dulu, sehingga fokus ibadah," jelas dia.
Sementara itu, bagi umat Konghucu, Imlek merupakan upacara peringatan keagaamaan. Sebab sebelum dan sesudah Imlek, banyak kegiatan persembahyangan.
Dimulai sepekan sebelum Imlek, ada upacara yang disebut Ji Si Siang Ang. Dimana tanggal 24 bulan 12 di penanggalan Tionghoa, merupakan saat dewa dapur naik ke kahyangan.
“Jadi upacara ini merupakan pengantar dewa dapur naik ke surga. Dewa dapur akan bercerita kepada Sang Pencipta selama setahun, tiap umat Tionghoa perbuatan baiknya apa saja, keburukannya apa saja," ungkap Adjie
Kemudian, pada Imlek hari keempat, dewa dapur kembali ke bumi. Bagi mereka yang berbuat baik akan mendapat berkah, sedangkan perbuatan buruk mendapat hukuman.
"Khusus pada peringatan Ji Si Siang Ang, sesaji yang dipersembahkan lengkap. Lauk pauk, makanan, sayur, minuman, sehingga dewanya senang kemudian melaporkan yang baik-baik. Tidak hanya sesaji, umat Konghucu juga membagikan sembako kepada masyarakat yang kurang beruntung," terangnya.
Malam sebelum Imlek, ada perayaan di rumah. Mengucap syukur kepada Tuhan dan leluhur. Maka ada tradisi makan bersama. Kemudian di hari H Imlek, bersilaturahmi ke rumah kerabat lainnya. Berkumpul di rumah saudara paling tua. Kemudian di hari kedua, berkunjung ke makam leluhur.
"Makanya ada salah satu suku Tionghoa, di hari kedua Imlek tidak menerima tamu karena khusus digunakan berziarah," ungkapnya.
Di hari kesembilan Imlek, imbuh Adjie Chandra, ada upacara King Thi Kong, yaitu penghormatan kepada Tuhan. Sepekan kemudian, sebagai penutup prosesi Imlek, dilakukan upacara Cap Go Meh.
Lebih lanjut dikatakan Adjie Chandra, tradisi Imlek di kalangan anak muda Tionghoa mulai luntur. Hal tersebut tak terlepas dari kebijakan di masa Orde Baru.
Kala itu terbit surat keputusan bersama tiga menteri, yakni menteri agama, menteri kehakiman dan menteri dalam negeri yang menyatakan Konghucu bukan agama. Dikuatkan dengan Instruksi Presiden (Inpres).
Kebijakan tersebut berimplikasi Konghucu tidak boleh ditulis di KTP maupun kartu keluarga sebagai agama. Dampaknya, banyak yang pindah agama.
Baru di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Inpres tersebut dicabut. Konghucu kembali diakui sebagai agama di Indonesia.
"Tapi sudah telanjur kehilangan generasi selama 30 tahun, sehingga wajar saat ini, jarang kaum muda yang paham tradisi Imlek. Sebab orang tuanya sudah tidak menjalankannya," kata Adjie. (atn/wa/dam) Editor : Damianus Bram