Sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Susanto menilai, sejumlah bangunan di Keraton Kasunanan Surakarta memang mendesak untuk direvitalisasi. Misalnya rusaknya gudang kelistrikan yang ambruk beberapa waktu lalu. Kemudian banyaknya atap rusak dan bocor di gudang kereta, dan lain sebagainya. Ini sangat mendesak untuk mendapatkam penanganan.
"Dari sudut pandang cagar budaya memang perlu perbaikan. Tapi kami berharap revitalisasi itu bukan hanya dari fisiknya saja, tapi pemerintah harus mampu menciptakan suasana yang baik sesuai dengan adat dan kebiasaan lingkungan keraton zaman dulu. Tentu harus didukung dengan regulasi yang baik untuk ke arah sana," kata dia.
Suanto menilai kebiasaan masyarakat saat ini cukup medegradasi nilai-nilai adat dan tradisi di lingkumgan keraton. Salah satu contoh yang paling gampang dilihat adalah banyaknya suara bising kendaraan bermotor yang lalu lalang di dalam Benteng Baluwarti itu. Belum lagi jika kendaraan itu pakai knalpot brong yang memekakan telinga.
"Saya sering melakukan kajian kecagarbudayaan dengan Gusti Dipo (KGPHA Dipokusumo, adik PB XIII) di Sasana Mulya. Kalau di situ suara kendaraan luar biasa bising. Kendaraan lewat itu kencang-kencang. Lha ini keraton apa Jalan Slamet Riyadi. Kok seakan-akan wibawanya keraton ini hilang di mata orang-orang itu," ujar Susanto.
Contoh lainnya adalah arah kendaraan yang melintas di dalam Benteng Baluwarti. Aturan yang mestinya ke kiri itu makin samar dengan semrawutnya lalu lintas saat ini. Ini hal-hal kecil, tapi bisa saja menjadi perhatian bagi pendatang atau wisatawan yang terbiasa dengan keteraturan.
"Dulu itu masuk ke Baluwarti dari Kori Brajanala itu kan berputarnya ke kiri. Ini ada yang ke kiri, ada yang ke kanan juga. Baiknya diatur sekalian kalau seperti itu jadi semacam ada ketentuan yang mengatur itu," beber dia.
Di luar itu, dia mendukung penuh upaya revitalisasi. Dari berita yang beredar, awal revitalisasi keraton bakal menyentuh gapura gladak dan alun-alun juga panggung Sanggabuana sebagai prioritas dari SISKS PB XIII. Di sisi lain, rencana revitalisasi Masjid Agung juga digulirkan pada waktu bersamaan seiring revitalisasi keraton itu. Tak mau ketinggalan, permukiman di wilayah Baluwarti juga akan ditata tahun ini dengan dana hibah dari UEA.
"Terus terang untuk tim ahli cagar budaya memang belum dilibatkan pada rencana ini. Namun kami menyambut baik,” ujar dia.
Pertanyaannya akan dibawa kemana revitalisasi ini? Apakah akan dikembalikan ke fungsi aslinya, atau dikembalikan namun disesuaikan fungsi saat ini karena seiring perkembangan zaman lokasi-lokasi ini memainkan perannya masing-masing dan memiliki fungsi yang berkembang khususnya gladak dan alun-alun. “Ini yang harus benar-benar dikaji," tutur Susanto. (ves/bun/dam) Editor : Damianus Bram