Penanggung jawab Tari Bedhaya Ketawang dalam acara jumenengan GKR Wandansari Koes Moertiyah memastikan seluruh penari telah disiapkan jauh-jauh hari untuk membawakan tarian sakral tersebut pada momen spesial peringatan kenaikan tahta raja. Adik kandung PB XIII Hangabehi itu juga memantau lansung latihan rutin yang sudah dilakukan sejak beberapa bulan lalu dan makin intens dalam beberapa pekan terakhir.
“Saya yang bertanggung jawab untuk Tari Bedhaya Ketawang. Kalau untuk tamu-tamu dari saya hanya sedikit, yang lainnya undangan dari Sinuwun (PB XIII) semua,” kata dia, Selasa (14/2/2023).
Sebelum memutuskan sembilan penari utama yang dipilih untuk membawakan tarian yang diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma (Raja Mataram 1613-1645), perempuan yang akrab disapa Gusti Moeng itu menerapkan aturan ketat. Sebab, tarian ini memiliki tingkat kesulitan dan kesakralan paling tinggi di keraton.
Penari pilihan itu bukan hanya sekadar mahir dalam membawakan tarian, namun harus memiliki keterikatan rasa yang kuat agar tidak mengurangi makna dari tarian sakral itu. Mengingat tarian itu hanya boleh dibawakan pada upacara adat kenaikan tahta raja.
“Kami siapkan latihannya sejak jauh hari. Terkahir Senin malam lalu. Kemudian ada aturan khusus yang harus dilakukan sembilan penari itu sebelum membawakan saat upacara kenaikan tahta,” kata dia.
Disinggung soal penari pilihan, Gusti Moeng mengaku formasi penari ini merupakan formasi baru. Dua penari di antaranya merupakan penari-penari yang tampil pada upacara yang sama di tahun-tahun sebelumnya. Sementara tujuh lainnya merupakan penari-penari baru pilihan yang langsung belajar dari Gusti Moeng.
“Dari tujuh penari pilihan saya ini ada yang senior. Pertama yang bertugas jadi bataknya dan kedua jadi endelnya yang juga putri saya sendiri. Ini formasi terbaik untuk saat ini dengan menimbang kemampuan dan rasa masing-masing penari,” papar Gusti Moeng.
Tari Bedhaya Ketawang akan dibawakan penuh selama dua jam lamanya sesuai keaslian baik dari durasi maupun gerak. Dengan demikian kesakralan tarian itu akan selaras dengan upacara adat kenaikan tahta raja yang ke-19 itu. Usai jumenengan, PB XIII Hangabehi beserta keluarga besar dan segenap tamu undangan akan mengikuti kirab.
“Sinuwun dan permaisuri ikut kirab naik kereta kuda Kyai Garuda Kencana. Di belakangnya nanti diikuti Kyai Garuda Putra yang dinaiki oleh putra mahkota. Disusul beberapa kereta kuda keluarga keraton dan tamu-tamu lainnya. Seluruhnya tidak kurang dari tiga ribu peserta kirab,” terang Wakil Ketua Panitia Tingalan Dalem Jumenengan Ke-19 KGPHA Benowo.
Pria yang juga adik kandung raja ini mengungkapkan, PB XIII Hangabehi saat ini dalam kondisi sehat setelah cek kesehatan di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Dengan demikian, raja dipastikan bisa mengkuti seluruh prosesi kenaikan tahta itu secara penuh. (ves/bun/dam) Editor : Damianus Bram