Sore harinya, raja yang didampingi permaisuri dan segenap keluarga besar melaksanakan kirab agung jumenengan.
Pantauan Jawa Pos Radar Solo, sejak pagi kawasan Keraton Kasunanan Surakarta telah dipadati para tamu undangan dan sejumlah aparat pengamanan dari TNI/Polri. Para tamu undangan dan abdi dalem itu telah bersiap-siap menyambut hajatan besar ini, yakni menggelar upacara kenaikan takhta raja yang ke-19 kalinya. Upacara adat itu juga tampak meriah lantaran dihadiri sejumlah tamu penting. Yakni dengan hadirnya perwakilan-perwakilan dari 13 kerajaan yang ada di Nusantara.
Tepat pukul 08.00, pintu utama keraton yang dikenal dengan sebutan Kori Kamandungan mulai dibuka. Sejumlah tamu undangan yang sudah berdiri untuk beberapa lama mulai dipersilakan masuk. Dalam momen itu terlihat pemandangan unik, tepatnya ketika salah satu kerajaan melakukan atraksi sebelum memasuki area keraton. Mereka menarikan tarian adat dengan iringan musik rebana.
"Kedatangan ke sini menghadiri undangan Jumenengan Keraton Kasunanan PB XIII, sekaligus silaturahmi dengan keluarga besar. Saya mewakili 13 kerajaan dan 8 raja yang hadir. Izin untuk masuk ke dalam kerjaan," ungkap Pangeran Edward Syah Pernong, raja dari Kesultanan Kepaksian Sekala Brak kemarin.
Sebelum masuk kawasan dalam keraton kasunanan, kerajaan asal Lampung ini membawakan tradisi Alam Kemisir yang merupakan tarian perang dan kebesaran. Selesai melakukan tradisi tersebut Sultan Skala Brak Yang Di Pertuan Ke-23, Paduka Yang Mulia (PYM) Sai Batin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Pangeran Edward Syah Pernong meminta izin kepada putra PB XIII Hangabehi untuk memasuki area jumenengan tersebut. "Saya terima dan silahkan masuk ke tempat yang telah disediakan," ucap KGPH Hangabehi (dulu dikenal dengan nama KGPH Mangkubumi).
Upacara adat dimulai sekira pukul 10.00, dengan masuknya SISKS PB XIII Hangabehi ke singgasana raja. Momen sakral dalam upacara adat ini adalah dibawakannya Tari Bedhaya Ketawang dihadapan raja dan sejumlah tamu undangan selama dua jam lamanya. Sebelum akhirnya ditutup dengan penyampaian perintah raja dan dilanjutkan dengan kirab budaya.
“Penarinya sudah yang terbaik karena sudah bisa menjiwai semua, ini penari saya semua kali ini. Lurah Bedhoyonya ini sudah menari sejak SMP sampai kini berusia 38 tahun. Dia yang jadi bataknya. Anak saya sendiri yang dulu sempat ikut hari ini juga terlibat sebagai endelnya,” ucap penanggung jawab Tarian Bedhaya Ketawang GKR Wandansari Koes Moertiyah.
Disinggung soal kehadiran keluarga besar, wanita yang akrab disapa Gusti Moeng ini memastikan seluruh keluarga besar dari anak-anak PB XII dan saudara-saudara PB XIII Hangabehi hadir dalam upacara adat yang paling sakral di lingkungan Keraton Kasunanan itu. Dia berharap kondisi yang sejuk dan adem ayem ini bisa terpelihara dengan baik untuk kedepannya demi kebaikan keraton.
“Sebetulnya keraton itu tidak ada apa-apa, hanya orang luar saja yang menganggap ada apa-apa. Misalnya saya dianggap keras kepala dan sebagainya. Saya memang keras kepala, tapi dalam hal paugeran. Harapannya suasana ini bisa sejuk terus lah kedepan,” ujar adik kandung PB XIII itu.
Usai jumenengan, SISKS PB XIII Hangabehi bersama permaisuri, putra mahkota, keluarga besar, abdi dalem, dan seluruh tamu undangan dijadwalkan ikut serta dalam Kirab Agung. Awalnya akan dihelat pada pukul 14.00, namun karena hujan lebat melanda Kota Bengawan, pelaksanaan kirab agung diundur dua jam, dan baru bisa digelar pada pukul 16.00.
Kirab sore itu tampak begitu syahdu karena diiringi rintik hujan dengan langit yang mulai kehilangan cahayanya.
Adik kandung PB XIII Hangabehi, KGPH Dipokusumo mengungkapkan, bersyukur prosesi acara bisa berjalan dengan lancar. Yang istimewa dan lebih semarak karena sudah tidak dengan aturan ketat seperti pada saat Covid-19, dan masyarakat bisa ikut hadir memeriahkan prosesi ini.
“Harapannya jumemengan ini membawa spirit keraton yang lebih baik. Kirab ini alat untuk komunikasi atau berinteraksi dengan rakyat. Sinuwun yang kirab, yang lainnya hanya mengantarkan dan melengkapi,” ungkap. (ves/nik/dam) Editor : Damianus Bram