Tiga nama itu, yakni pendiri Muhammadiyah Ahmad Dahlan, pendiri Nahdlatul Ulama Hasyim Asyari, dan tokoh yang berpengaruh di Kota Solo Ahmad Siroj Panularan.
Asisten Direktur Operasional Join Committee Indonesia Bagus Sigit Setiawan menjelaskan, penamaan tenda merupakan permintaan dari Join Committe UEA.
”Tenda yang paling besar berada di sebelah timur. Kemudian ada juga yang di utara masjid,” katanya dalam press conference di Masjid Raya Sheikh Zayed, Rabu (22/3).
Tenda-tenda tersebut dipergunakan untuk menampung takjil yang mulai tersedia pada pukul 16.00. ”Insya Allah 6.000 takjil per hari. Itu terbatas, kurang lebih 6.000,” tambah Bagus.
Ribuan porsi takjil tersebut disajikan dalam bentuk makanan berat khas Indonesia. Tapi bisa juga menghadirkan menu ala Timur Tengah. Namun, pihak masjid tidak bisa memastikan semua pengunjung mendapat makanan berat. Karenanya, air mineral dan kurma tetap disediakan.
”Kurma didatangkan dari UEA, 30 ton ada, satu kontainer datang. Insya Allah bisa memenuhi kebutuhan selama Ramadan,” ujar Bagus.
Selain itu, masyarakat diperbolehkan membawa makanan dari luar. Namun dilarang membawanya ke dalam masjid. Inilah salah satu aturan yang perlu ditaati.
”Di dalam masjid tetap tidak boleh, meski pun itu takjil (dari masjid, Red). Di bawah bangunan masjid tidak boleh dhahar (makan, Red) juga, tidak boleh minum. Maka kami siapkan tenda dhahar dan ada karpet bersih di situ,” jelasnya.
Aturan lainnya yang perlu diperhatikan oleh jamaah adalah saat salat Tarawih, Itikaf, ataupun salat fardhu di dalam ruang utama masjid.
”Kemarin itu kan ada jadwal ruang utama ini hanya dimasuki setengah jam sebelum salat wajib. Dan setengah jam setelah salat wajib,” jelas Bagus.
Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Solo, antusiasme masyarakat berkunjung ke Masjid Zayed sangat tinggi. Berdasarkan data, rata-rata terdapat 40.000 pengunjunng per hari. Padahal kapasitas masjid hanya 10.000 jamaah.
Karena itu, selama Ramadan pihak masjid membuat aturan khusus untuk ruang utama. Di mana jamaah dibatasi agar ibadah tetap khidmat. (nis/adi/ria) Editor : Syahaamah Fikria