Anak-anak yang semestinya mendapatkan perlindungan di satuan pendidikan, malah menjadi korban kekerasan seksual. Ini menyebabkan anak sebagai korban menderita lahir batin serta terampas masa depannya.
"Kekerasan seksual terhadap anak bahayanya sangat besar karena bukan hanya menyangkut kepentingan masa depan individu korban, namun dalam skala yang lebih luas dapat menyangkut masa depan bangsa. Maka perlu ada penekanan pada tujuan pemidanaannya berupa pembalasan dan penjeraan terhadap pelaku," ucap Ketua Yayasan KAKAK Surakarta Shoim Sahriyati, Rabu (29/3/2023).
Ada beberapa poin penting yang harus dilakukan pemerintah untuk memberikan keamanan dan rasa aman bagi para korban pelecehan seksual. Pertama, kasus pelecehan seksual bagi anak harus mempunyai sistem yang cepat. Sehingga bagi siapapun pelapornya dapat dengan cepat direspons oleh pemerintah atau dinas terkait. Kedua, pemerintah harus menjamin keamanan identitas korban. Ketiga, pemerintah harus memberikan dan menjamin keuntungan bagi korban yang melapor.
"Jadi dari kasus yang saat ini sedang terjadi harus dijamin apa keuntungan bagi korban setelah melapor. Kejahatan seksual kebanyakan memang modusnya dengan model pendekatan (PDKT) istilahnya, dan biasanya dilakukan oleh orang terdekatnya," katanya.
Dia juga menekankan, bahwa rehabilitasi bagi korban pelecehan seksual utama anak-anak itu sangat perlu dilakukan. Anak harus didampingi untuk kemudian bisa kembali pulih. Pendampingan diberikan dengan tujuan agar tidak mempengaruhi perilaku dia di kemudian hari.
"Seberapa besar pengaruhnya bagi korban, dalam hal ini anak-anak itu kita tidak tahu. Maka sangat perlu untuk dilakukan pendampingan tersebut dengan orang yang memiliki keahlian di bidangnya," imbuhnya.
Jika dampak yang ditimbulkan pelaku kejahatan seksual menyangkut masa depan dan psikologis anak-anak tersebut maka perlu diberikan hukuman yang setimpal. Banyaknya jumlah korban juga harus menjadi pertimbangan yang memberatkan hukuman.
"Para pelaku kejahatan seksual ini, perlu mendapatkan hukum yang berat sehingga membuatnya jera," imbuhnya.
Shoim Sahriyati menyebutkan, pelecehan seksual pada anak memiliki dampak yang beragam bagi korban. Bahkan yang paling parah dapat mengakibatkan meninggal dunia. Belajar dari kasus yang pernah terjadi di Kota Solo, tentang kasus siswa SMP yang dibunuh akibat dampak buruk media sosial. Banyak masyarakat yang menilai buruk dan menghakimi korban. Namun, hal tersebut bukan sepenuhnya salah dari anak.
"Anak itu sebenarnya menjadi korban. Kita juga harus tahu apa latar belakang anak bisa sampai pada tahap itu. Anak usia 18 tahun itu belum bisa secara sempurna membedakan benar dan salah, sehingga masih menjadi tanggung jawab keluarga," jelasnya.
Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk mencegah kekerasan seksual pada anak bisa terjadi. Pertama, keluarga harus menjadi benteng pertama bagi anak agar tidak terjerumus oleh tipu daya pelaku pelecehan seksual. Kedua, pihak sekolah juga mempunyai peran penting untuk mengajarkan pada anak hal-hal yang mengarah pada kejahatan pelecehan seksual.
"Paling utama sebenarnya bisa dilakukan dengan model pendekatan teman sebaya. Kadang anak itu sungkan untuk bicara pada keluarganya atau gurunya. Tetapi kalau dengan temannya bisa lebih terbuka," pungkasnya. (ian/bun/dam) Editor : Damianus Bram