Kepala BPBD Kota Surakarta Nico Agus Putranto mengatakan, semua personel kebencanaan terus disiapkan selama 24 jam saat Solo diguyur hujan lebat dengan durasi panjang. Ini dilakukan guna mempercepat penanganan jika terjadi kejadian darurat yang bisa timbul sewaktu waktu.
"Personel, logistik, dan peralatan disiapkan untuk langsung bisa digunakan saat diperlukan. Untuk monitoring kami juga perkuat komunikasi dengan relawan yang ada di wilayah yang ada di kelurahan," kata dia, Kamis (30/3/2023).
Disinggung potensi bencana yang biasa muncul saat hujan lebat disertai angin kencang, BPBD mengaku yang paling kerap terjadi adalah bencana pohon tumbang. Selanjutnya baru genangan dan banjir di daerah aliran sungai. Sebab itu, monitoring ke titik-titik rawan selalu dilakukan saat hujan lebat dengan angin sudah berlangsung dalam tiga puluh menit.
"Kami juga koordinasi dengan wilayah sekitar, apakah juga terjadi hujan lebat atau tidak. Antisipasi limpahan air dari hulu yang bisa berdampak genangan atau banjir di Solo.
Terpisah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Ahmad Yani Jawa Tengah merilis prakirawan cuaca berupa hujan lebat yang berpotensi terjadi wilayah Jawa Tengah pada 31 Maret hingga 1 April. Wilayah Boyolali, Sragen, Karanganyar, Klaten, dan Sukoharjo masuk di deretan wilayah waspada dalam daftar tersebut. BMKG meminta masyarakat di wilayah setempat waspada akan potensi bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
"Ini musim pancaroba dari kemarau ke musim hujan. Masyarakat harus waspada terhadap wilayah rawan banjir dan longsor," terang Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Jawa Tengah Iis Widya Harmoko. (ves/bun/dam) Editor : Damianus Bram