Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pakar: Pahami Karakteristik Pasar agar Revitalisasi Tak Berujung Sepi Pembeli

Syahaamah Fikria • Jumat, 21 April 2023 | 17:40 WIB
Bambang Irawan, Pengamat Ekonomi UNS
Bambang Irawan, Pengamat Ekonomi UNS
RADARSOLO.COM - Karakteristik yang berbeda antara satu pasar tradisional dengan pasar tradisional lainnya menjadi tantangan yang perlu pecahkan sebelum memulai proses penataan, revitalisasi, ataupun rebranding di suatu pasar tradisional. Hal ini penting dilakukan untuk mengantisipasi lesunya aktivitas pasar pasca penataan yang dilakukan pemerintah.

Ada beragam karakteristik yang berbeda antara satu pasar tradisional dengan pasar tradisional lainnya. Karakteristik ini berhubungan dengan berbagai faktor, mulai dari jenis dagangan yang ditawarkan, segmentasi pasar, hingga karakter pedagang di pasar setempat.

Sejauh ini, tidak ada permasalahan berarti di pasar-pasar lama baik yang sudah tersentuh revitalisasi atau belum. Seperti di Pasar Gede, Pasar Legi, Pasar Klewer, Pasar Kliwon, Pasar Pon, dan lainnya terbilang masih eksis hingga saat ini. Hal itu berbeda dengan pasar-pasar yang terbilang baru.

Pasar-pasar lama di Solo memiliki nilai kesejarahan yang panjang dan terbukti memiliki kemampuan di tengah perkembangan zaman. Pasar-pasar ini memiliki karakter yang kuat dan terbentuk sejak sekian lama. Sehingga perubahan fisik yang terjadi di pasar itu tidak banyak berpengaruh pada aktivitas jual beli di pasar tradisional itu.

Tentu fenomenanya akan berbeda jika dibandingkan dengan pasar-pasar yang baru dibangun sebagai bentuk solusi dari suatu fenomena. Seperti Pasar Panggungrejo yang semula untuk menata PKL di belakang UNS dan pasar-pasar sejenis lainnya.

Jika diamati lebih dalam, akan ditemukan berbagai alasan yang membuat pasar tradisional itu tampak lesu dan kehilangan pembeli. Baik dari internal pasar maupun dari eksternal yang memengaruhi eksistensi pasar tradisional itu.

Solusi untuk mengatasi itu dikenal dengan istilah penataan, revitalisasi, atau rebranding dengan konsep memberdayakan suatu yang sudah ada menjadi lebih berdaya daripada sebelumnya.

Banyak faktor yang membuat pasar lesu. Misalnya, pasar sepi akhirnya membuat pedagang memilih untuk mencari lokasi baru yang lebih prospektif untuk usahanya dan sebagainya. Kemudian ada juga faktor lain misalnya ada usaha sejenis yang dirasa lebih mudah dijangkau oleh masayrakat sehingga masyarakat tidak lagi datang ke pasar tradisional.

Penataan, revitalisasi, atau rebranding itu perlu, namun harus disesuaikan dengan karakteristik pasarnya. Karena itu, pemerintah harus memahami karakteristik setiap pasar. Kalau itu sudah dilakukan, perlu adanya sinergi antara pemerintah dan pedagang. (Disarikan dari wawancara wartawan Radar Solo Silvester Kurniawan/bun)

  Editor : Syahaamah Fikria
#Pengamat Ekonomi UNS #pasar tradisional #pasar sepi #revitalisai pasar #Bambang Irawan