Kasus kekerasan seksual diperparah dengan minimnya pemahaman masyarakat. Bahwa ada lembaga pendukung yang berperan membantu, memahami, mendampingi, serta memvalidasi perasaan korban pelecehan seksual.
“Terkadang para korban tidak berani speak up. Bahkan bingung harus melapor ke mana. Ini yang memperparah kejahatan seksual. Sehingga sulit dihentikan. Bisa berdampak besar bagi para korbanya,” ucap Ketua Yayasan Kakak Surakarta Shoim Sahriyati.
Sahriyati menambahkan, dampak tersebut berpengaruh bersar terhadapi psikologis masa depan dan para korban. Dampak paling parah adalah kehilangan nyawa. Seperti kasus pembunuhan terhadap siswi SMP negeri di Kota Solo, belum lama ini. Dilakukan pria hidung belang, usai berkencan dengan korban via aplikasi perkencanan.
“Anak itu sebenarnya korban. Maka harus tahu dulu apa latar belakangnya, sampai anak ini di tahap itu (terjerumus prostitusi). Anak usia 18 tahun belum bisa membedakan benar dan salah. Sehingga masih menjadi tanggung jawab keluarga,” imbuh Sahriyati.
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan masyarakat, untuk mencegah kekerasan seksual terjadi. Pertama, dari faktor keluarga yang menjadi benteng bagi anak supaya tidak terjerumus tipu daya pelaku pelecehan seksual.
Kedua, peran lembaga pendidikan. Berperan penting dalam mengajarkan anak, supaya menghindari hal-hal yang mengarah pada kejahatan seksual. Termasuk memberikan hukuman berat kepada pelaku sebagai efek jera.
“Paling utama sebenarnya bisa dilakukan dengan model pendekatan teman sebaya. Kadang seseorang itu sungkan bicara pada keluarga atau gurunya. Tetapi kalau dengan temannya bisa lebih terbuka,” bebernya. (ian/fer/ria)
Editor : Syahaamah Fikria