Sutradara Garda The Musical Eko “Pece” Supriyanto mengatakan, Garda The Musical merupakan drama musikal yang menurutnya original. Baik dari segi cerita maupun iringan musik.
"Naskah dibuat khusus oleh Pak Hanindawan, tokoh teater asal Solo. Begitu pula dengan musiknya diciptakan langsung untuk Garda oleh Mas Gondrong Gunarto," jelasnya.
Dalam menggarap lakon ini, lanjut Eko Pece, bukan tanpa tantangan. Diantaranya persiapan yang relatif singkat. Mulai dari proses audisi pemain, latihan, hingga hari H persiapannya hanya satu bulan.
"Jadi bulan puasa itu kami latihan. Libur hanya pas Lebaran. Setelah itu lanjut latihan lagi. Potensi seniman kita, khususnya seniman Solo, tidak perlu diragukan lagi. Walaupun seperti nglumpuke balungan pisah, tapi tidak perlu waktu lama. Dikasih gambaran saja, sudah bisa jalan. Karena spesialisasinya di situ. Diajak Bandung Bondowoso-nan, ya tidak ada masalah," kelakarnya.
Ditambahkan Eko Pece, pertunjukan yang digelar malam tadi adalah bentuk relasi. Dimana ini merupakan karya dari seluruh mahasiswa lintas program studi ISI Surakarta. Baik dari konsentrasi Ilmu Seni Pertunjukan maupun Seni Rupa dan Desain. "Kami juga menggandeng artis Ibu Kota, Widi Mulia, Dwi Sasono, serta Beyon Destiano," jelasnya.
Diketahui, Garda The Musical adalah karya yang terilhami kehidupan dunia burung di Nusantara. Gagasan garap karya ini adalah me-manusiakan burung, artinya manusia tidak meniru seperti burung. Tetapi memberi nilai kepada karakter-karakter burung untuk menyuarakan kemanusiaan.
Garda adalah wujud kebijaksanaan mengelola harmonisasi alam, dengan pusaka cahaya delima untuk menyingkirkan kejahatan.
Kisah ini diawali oleh tokoh Jenar sang burung kenari yang diperankan Widi Mulia, kehilangan anaknya. Dimana saat Jenar sedang melakukan perjalanan dan pencarian sang anak, dia termotivasi menjadi tokoh Garda yang pemberani, perkasa, dan bijaksana.
Jenar bermimpi mendapatkan pusaka cahaya delima yang seketika dapat mengubahnya menjadi Garda.
Pesan yang ingin disampaikan dalam pertunjukan ini, pusaka sejati adalah berkumpulnya ibu dan anak. Masing-masing adalah pusaka itu sendiri, tidak terpisahkan oleh ego dan ambisi.
"Demikian pula dengan ilmu pengetahuan yang tidak dapat diperoleh secara instan, tetapi harus dilakukan dengan usaha dan kerja keras," tutur Eko Pece.
Sementara itu, Widi Mulia mengatakan, Garda The Musical memberikan wawasan tari tradisional dari berbagai daerah. "Akhirnya saya berkesempatan bisa bekerja sama dengan Mas Eko. Melihat Mas Eko berkarya dengan teman-teman Garda The Musical ini komplet. Bisa menari, menyanyi, dan akting. Ini kerja tim indahnya berkolaborasi," ungkapnya.
Widi juga menyatakan kekagumannya pada Eko Pece yang menyatukan kunci-kunci kebudayaan menjadi satu musikal tari. “Selama berlatih kurang lebih sebulan ini, Mas Eko benar-benar kalem orangnya. Cara mengingatkan kalau ada yang salah, tidak pakai marah. Jadi bisa lebih paham. Setelah pentas ini rasanya plong. Latihan kami ngak sia-sia," pungkas personel group musik AB Three ini. (atn/wa) Editor : Damianus Bram