Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

DP3AP2KB Kota Surakarta Mencatat Ada 1.050 Balita Stunting di Solo  

Damianus Bram • Rabu, 31 Mei 2023 | 14:30 WIB
PEMAPARAN: Diseminasi hasil kasus audit stunting tingkat Kota Surakarta di Balai Kota Surakarta, Selasa (30/5/2023). (ISTIMEWA)
PEMAPARAN: Diseminasi hasil kasus audit stunting tingkat Kota Surakarta di Balai Kota Surakarta, Selasa (30/5/2023). (ISTIMEWA)
RADARSOLO.COM Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Surakarta mencatat 1.050 balita stunting sepanjang tahun ini di Kota Bengawan. Temuan ini menjadi pekerjaan rumah yang cukup besar, mengingat target tahun depan adalah zero stunting.

Di sisi lain, berdasarkan hasil Survey Status Gizi Indonesia (SSGI), pada 2021 lalu Kota Surakarta berada di angka 20,4 persen, sementara tahun lalu turun menjadi 16,2 persen.

Persoalan stunting tidak melulu disebabkan hanya karena persoalan asupan gizi saja. Ada beragam faktor lain yang sedikit banyak berpengaruh pada fenomena stunting. Misalnya masalah kesejahteraan yang belum terpenuhi, hingga permasalahan lingkungan hidup seperti kebersihan rumah tinggal dan lingkungan.

Ini diperparah dengan adanya fenomena pernikahan usia anak di bawah 19 tahun yang terjadi di Solo sepanjang tahun ini. Dimana kasusnya ada seratusan anak nikah muda.

"Ada banyak faktor yang mempengaruhi stunting, mulai dari kesehatan calon pengantin, kesehatan ibu hamil, ibu nifas, dan kesehatan bayi di bawah dua tahun (baduta) juga bayi di bawah lima tahun. Banyak faktor mempengaruhi stunting, misalnya kehamilan di bawah 19 tahun. Kehamilan dengan reproduksi yang belum matang ini rawan melahirkan bayi prematur. Bayi prematur makin rawan terkena stunting. Yang rawan lainnya kehamilan di atas usia 35 tahun," papar ungkap Kepala DP3AP2KB Kota Surakarta Purwanti.

Zero stunting di 2024 mendatang ternyata berpotensi tak bisa terealisasi. Walau begitu langkah antisipasi sudah dilakukan saat ini

Terpisah, Wakil Wali Kota Surakarta Teguh Prakosa memastikan pemkot terus berupaya untuk ikut menuntaskan fenomena stunting dengan berbagai cara. Mulai dari peningkatan gizi pada balita hingga meningkatkan kemampuan ekonomi keluarga yang memiliki anak yang baru lahir agar tidak stunting.

"Kolaborasi antar stakeholder harus kuat, karena masalah stunting ini tidak hanya dari segi kesehatan saja. Ada faktor-faktor penyebab lainnya, seperti kemiskinan. Kasus stunting kami (Kota Solo) masih tinggi, tapi kami berupaya untuk menuntaskannya.  Termasuk pada anak-anak yang mengalami stunting. Seandainya fisiknya sudah terlanjur tidak berkembang sempurna, harapannya perkembangan otaknya tetap maksimal," imbuh Teguh Prakosa. (ves/nik/dam) Editor : Damianus Bram
#stunting #Kasus Stunting #DP3AP2KB Kota Surakarta #Kasus Balita Stunting #Balita Stunting #zero stunting