Aksi yang dimulai pukul 14.00 WIB itu berlangsung singkat, tak sampai satu jam lamanya. Jumlah massa yang sebelumnya disebut bakal mencapai 1.000 orang, namun fakta di lokasi diperkirakan hanya sekitar seratusan orang. Mereka berasal dari berbagai daerah di Solo dan sekitarnya.
Peserta aksi tampak serius menyimak orasi dari sejumlah tokoh penggagas people power tersebut.
"People itu adalah rakyat, sementara power adalah kekuatan. Aksi seperti ini adalah pengejawantahan dari Pasal 28 Amandemen ke 4 UUD '45 yang diimplementasikan dalam UU Nomor 9 Tahun 1998. Jadi kalau ada yang ketakutan people power, saya yakin perlu diperiksa, sekolah'e tidak lulus ijazah'e genah palsu," kata pengacara yang juga peserta aksi Muhammad Taufiq dalam orasinya.
Orasi itu disambut sorak sorai massa. Taufiq melanjutkan, people power tidak akan mungkin bisa melakukan pemberontakan pada suatu negara.
"Yang bisa berontak itu cuma polisi dengan tentara. Jadi kalau ada orang yang takut dengan people power, saya minta belajar buku," ucap Taufiq sambil menunjukkan buku koleksinya.
Kritik terhadap pemerintahan Presiden Jokowi juga disampaikan oleh pentolan Mega Bintang Mudrick Sangidu. Ia menegaskan, gerakan people power ini akan menyebar di seluruh Indonesia karena dalam waktu yang bersamaan aksi serupa juga dilakukan di daerah lain. Hal ini karena pihaknya tak lagi percaya pada pemerintah.
"Mengapa ada people power? Karena kita sebagai rakyat tak ada saluran untuk menyalurkan aspirasi kita. Semua anggota DPRD kota, provinsi, DPR RI, semua mengabdi pada rezim. Jadi saya akan memilih parlemen jalanan sampai dan diadili bersama oleh rakyat," ucap dia disambut seruan massa. (ves/ria) Editor : Syahaamah Fikria