RADARSOLO.COM - Bertahan hingga 113 tahun, Wayang Orang Sriwedari harus melalui perjuangan yang panjang dan berliku. Bukan sekadar soal kesejahteraan pemain. Melainkan juga menciptakan daya tarik penonton agar tak justru ditinggalkan seiring perkembangan zaman.
Bila ingin eksis, maka kualitas pertunjukan harus tetap dijaga. Apalagi pertunjukan Wayang Orang Sriwedari ini berlangsung setiap malam. Maka untuk menghindari kebosanan dari penonton, diterapkan standar tinggi bagi pemain dan materi pertunjukan.
Kabid Seni Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Solo Orbawati mengatakan, proses regenerasi terus dilakukan untuk menjaga kualitas pemain. Salah satu standar yang ditetapkan adalah ada tes khusus yang harus dilalui bagi pemain baru.
"Setiap ada yang pensiun kami membuka ujian terbuka. Agar bisa lulus harus memenuhi beberapa kriteria,” ujar Orbawati.
Di antara standar itu, calon pemain harus bisa ontowecono, bisa nembang, paham gending, dan yang paling penting bisa makeup sendiri. Karena nama Wayang Orang Sriwedari sudah punya standar sendiri, maka tidak boleh kalah dengan lainnya.
Bisa makeup sendiri memang menjadi syarat mutlak. Karena pentas setiap malam dengan melibatkan banyak pemain, tidak mungkin ada perias khusus untuk merias semua pemain.
“Ini akan menghabiskan waktu. Jadi pemain harus bisa makeup sendiri. Kemudian ada beberapa syarat lain seperti memiliki penampilan menarik," ujarnya.
Karena dituntut profesionalitas, maka setiap yang sudah bergabung menjadi keluarga besar pemain juga tidak bisa seenaknya. Tidak menutup kemungkinan kontrak tidak diperpanjang apabila pemain tidak memperlihatkan keseriusannya dalam berperan.
"Sering bolos tanpa keterangan, mainnya tidak ada perkembangan. Nanti kami beri catatan. Kalau tidak berubah ya mohon maaf kontrak tidak diperpanjang," tegas Orbawati.
Dari segi pertunjukan, menurut pengamatan dia sejak kali pertama bertugas di disbudpar pada 2002, sudah sangat berubah ke arah yang positif. Dari sisi teknis, baik penyampaian naskah, pengaturan narasi, pengaturan lakon, penari, dan semakin tertata.
"Karena 90 persen merupakan sarjana seni pertunjukan, sehingga masing-masing punya talent dan saling berkesinambungan. Kemudian kru pendukung seperti sound dan lighting memang mumpuni di bidangnya. Sebab, itu tadi saat rekrutmen kami punya standar sendiri," imbuh dia. (atn/bun/ria)
Editor : Syahaamah Fikria