RADARSOLO.COM - Terduga teroris S alias Supri, warga Dusun Sanggrahan, Desa Trayu, Kecamatan Banyudono, Boyolali yang ditangkap Densus 88 Antiteror Polri terkait bom bunuh diri di Polsek Astanaanyar Bandung, bukanlah orang baru dari aksi terorisme. Bahkan, dia memiliki hubungan dengan perakit bom dr Azhari.
"Tersangka S (Supri) adalah ketua kelompok atau amir kelompok kecil di wilayah Solo sekitarnya. Bertujuan untuk melakukan amaliyah (aksi terorisme, Red). S merupakan anggota lama yang masuk Jamaah Ansharut Tauhid atau JAT pada 2008 -2014, lalu bergeser menjadi simpatisan ISIS sejak 2014 sampai sekarang," jelas Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Densus 88 Anti Teror Polri Kombes Pol Aswin Siregar dalam jumpa pers di Mapolresta Solo, Jumat (4/8).
Melihat rekam jejaknya, S memiliki hubungan dengan perakit bom otak dari sejumlah aksi pemboman di Tanah Air, dr Azahari.
"S ini merakit bom sudah lama. Dia anak didik dari murid dr Azahari yang kemudian melatihnya. S sudah berlatih membuat switching bom sejak 2010. Yang melatih adalah Soghir, kelompok jaringan teroris Jamiah Islamiyah (JI), dan Soghir merupakan murid dari dr Azahari. Dia juga berlatih lagi 2012 dilatih oleh B yang merupakan anggota teroris JAT, menamakan dirinya Al Qaedah Indonesia," katanya.
Shogir merupakan teroris yang terlibat dalam berbagai teror bom. Seperti pengeboman di Kedutaan Australia pada 2010 dan di Cibinong. S membuat dua jenis bom, high explosive dan low explosive. Sedangkan kasus di Polsek Astanaanyar merupakan bom high explosive. Dampaknya membuat tubuh AM terurai menjadi beberapa bagian. Saat itu, beruntung hanya satu bom saja yang meledak.
"Kami menyampaikan fakta. Waktu itu pelaku membawa dua ransel, satu di depan dan satu di belakang. Saat itu yang meledak hanya satu. Sehingga ada satu anggota polisi di belakangnya juga meninggal," jelasnya.
Hasil penyelidikan Densus 88 Antiteror, serpihan kontainer bekas bom di Bandung sama dengan yang ditemukan di rumah S. Aswim menunjukkan serpihan kontainer dan kaca bom panci dengan panci presto yang disita dari rumah S. Sejumlah barang bukti yang ditemukan merujuk pada pembuatan bom dengan eksplosif tinggi. Di dalam panci berisikan paku-paku besar dan switch pemicu elektrik yang mengaktifkan bom.
Lalu, dari mana mereka mendapat bantuan dana? Aliran dana dari bantuan masyarakat. Mereka memasang hampir 50-an kotak amal dengan dua nama. Yakni, kotak sumbangan sahabat langit dan sahabat umat.
"Kotak-kotak sumbangan itu adalah sarana untuk pendanaan yang mereka lakukan. Cara mereka mendapatkan dana ditaruh di tempat-tempat umum atau publik. Hasil sumbangan untuk pembelian bahan-bahan bom. Pengungkapan ini semua adalah keberhasilan kita bersama. Proses penyelidikan masih berlangsung secara intensif," tandas Aswin. (rgl/ria)
Editor : Syahaamah Fikria