RADARSOLO.COM – Trans Jateng rute Solo-Wonogiri resmi beroperasi hari ini (8/8). Kehadiran transportasi publik ini dijamin tidak akan tumpang tindih dengan rute Batik Solo Trans (BST) dan feeder. Malah bakal saling melengkapi karena telah terintegrasi dengan rute dalam kota.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surakarta Taufiq Muhammad menyambut baik operasional Trans Jateng dengan Trayek Solo – Sukoharjo – Wonogiri mulai hari ini. Peresmian trayek baru ini bakal melengkapi koridor sebelumnya yang beroperasi di Solo – Sangiran – Sumberlawang.
“Artinya yang aglomerasi sudah ada dua trayek (Solo-Sumberlawang, Sragen dan Solo-Wonogiri). Ini akan membuat pelayanan transportasi publik makin prima,” ujar dia.
Bagi daerah yang dilewati rute aglomerasi bisa naik Trans Jateng. Kemudian bagi yang menuju atau dari dalam kota bisa disambung menggunakan BST maupun feeder.
“Ke depan akan makin terintegrasi kalau semua skema trayek Trans Jateng sudah dibuka seperti rute Solo-Boyolali, Solo-Sragen, Solo-Karanganyar, dan Klaten-Kartasura,” terang dia Senin (7/8).
Trans Jateng yang terintegrasi dengan BST dan feeder ini bisa mempermudah mobilitas masyarakat karena area yang dikaver semakin luas. Kelebihan lainnya adalah perihal ketepatan waktu dalam pelayanan dan tarif yang terjangkau karena untuk masyarakat umum Rp 4.000 per penumpang sementara untuk pelajar, lansia, dan disabilitas Rp 2.000 per penumpang.
Layanan ini diharapkan bisa mengubah kebiasaan masyarakat yang selama ini masih berpergian dengan kendaraan pribadi bisa bergeser ke angkutan umum. Dengan demikian permasalahan kemacetan dan kepadatan lalu lintas bisa teratasi.
“Sebagai contoh penumpang Trans Jateng dari arah Wonogiri atau Sukoharjo menuju Solo bisa oper naik BST Koridor 6 di kawasan The Park Solo Baru. Tapi kalau mau ke Sragen bisa oper di Terminal Tirtonadi. Kami pastikan rute BST dan feeder sudah terintegrasi,” beber Taufiq.
Untuk mendukung Trans Jateng ini, dishub akan memaksimalkan peran halte terintegrasi. Halte ini akan dibuat lebih nyaman bagi penumpang.
“Contoh alte terintegrasi ini sudah ada di Kerten. Rencananya kami siapkan juga di Panggung dan Gemblegan. Tahun ini ada 12 halte yang kami bangun untuk melengkapi pelayanan BST-feeder,” ujar dia.
Sebelumnya sudah ada sub terminal tipe C untuk optimalisasi layanan feeder. Sampai saat ini penumpang BST berkisar di 15 ribu penumpang pada hari kerja, sementara feeder 5 ribu penumpang.
Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka menilai trayek baru Trans Jateng itu bisa memaksimalkan pemanfaatan transportasi publik di Solo dan sekitarnya. Untuk layanan BST-feeder yang sejauh ini malayani jalur dalam kota dipandang sudah baik. Ke depan layanan integrasi akan lebih baik dengan adanya aglomerasi Trans Jateng.
“Transportasi terintegrasi masih belum cukup, khususnya untuk yang luar kota. Idealnya ke depan semua ada,” kata Gibran. (ves/bun)
Editor : Damianus Bram