Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Kriminolog: Pembunuhan Dosen UIN Direncanakan

Septian Refvinda Argiandini • Kamis, 31 Agustus 2023 | 18:06 WIB
Kriminolog UNS Rehnalemken Ginting
Kriminolog UNS Rehnalemken Ginting

RADARSOLO.COM – Kasus pembunuhan Wahyu Dian Silviani, 34, dosen Univesitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta sebagai pembunuhan berencana. Pembunuhan berencana menguat, karena ada jeda waktu sebelum kejadian. Hal ini diungkapkan Kriminolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Rehnalemken Ginting.

Menurut Ginting, jeda waktu eksekusi pembunuhan yang dilakukan tersangka Dwi Feriyanto, kuli bangunan yang mengerjakan rumah korban, layak dicurigai. Saat gelar perkara setelah tertangkap, tersangka mengaku dendam karena dikata-katai dengan kasar olek korbannya pada Senin (20/8). Merasa sakit hari, tersangka lalu membunuh korban pada Kamis malam (23/8).

“Dilihat dulu motifnya apa? Karena tidak mungkin seringan itu. Kalau tersangka sudah merencanakan, itu bukan pembunuhan biasa. Bisa masuk kategori pembunuhan berencana. Melihat dari jeda waktu tersebut,” papar Ginting.

Ginting menambahkan, banyak motif yang terbentuk dalam kasus tersebut. Salah satunya jeda waktu antara pembunuhan, dengan tindakan korban yang diklaim memunculkan dendam.

“Itu yang harus diteliti. Mungkin sakit hati atau bagaimana? Kalau sakit hati, karena apa? Mungkin karena hutang atau dihina orang disayangi. Jadi banyak faktor seseorang melakukan kejahatan,”  imbuh Ginting.

Jika seseorang dalam kondisi tidak kondusif, perkataan orang lain bisa menyulut tindakan yang di luar kendali. Bahkan mematik amarahnya hingga naik pitam. Namun jika seseorang dalam kondisi aman dan baik, perkataan negatif dari orang lain tidak akan berpengaruh sama sekali.

“Standar iman dan kesabaran orang berbeda-beda kualitasnya. Maka rasa cepat marah, tergantung kondisi dirinya seperti apa? Dia ekstrovert atau introvert,” bebernya.

Ginting menyebut, orang yang ekstrovert biasanya merasa lebih mudah mengambil peluang. Sedangkan orang yang introvert, cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

“Ekstrovert itu lebih mudah keluar, sedangkan introvert lebih memilih dipendam. Ini secara psikologis harus diketahui oleh mereka yang mengawal kasus pembunuhan tersebut, termasuk masyarakat,” tandasnya. (ian/fer)

 

Editor : Damianus Bram
#pembunuhan berencana #Kriminolog UNS Rehnalemken Ginting #Pembunuhan dosen UIN Surakarta #UIN Raden Mas Said