RADARSOLO.COM - Laweyan dikenal sebagai sentra industri batik tulis sejak abad ke-15. Dan meraih masa-masa kejayaan pada era 1900 melalui metode batik cap yang mereka kembangkan sebelum akhirnya tergerus dengan industri sablon bermotif batik pada 1970-1990. Ribuan perajin batik sempat eksis. Namun, kini tinggal menyisakan puluhan perajin yang masih bertahan.
“Kampung Laweyan memiliki sejarah panjang dalam industri batik. Banyak juga yang akhirnya gulung tikar karena kalah saing dengan industri tekstil bermotif batik. Kemudian warga dan generasi perajin batik (1990-an) ingin menghidupkan kembali. Kami ingin Laweyan kembali dikenal sebagai sentra industri batik seperti yang pernah eksis di generasi terdahulu,” beber Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan (FKKBM) Alpha Febela Priyatmono saat ditemui di kediamannya belum lama ini.
Alpha yang merupakan pemilik dari batik Mahkota Laweyan ini juga mengalami pasang surut industri batik yang dialami leluhurnya. Produsen batik tulis yang dulunya bernama batik Puspowiyoto atau dikenal batik PW itu tercatat eksis sejak 1940 dan gulung tikar pada 1990. Sempat tiarap selama 16 tahun, dia dan istri yang merupakan penerus batik Puspowiyoto itu kembali membangun produksi batik dengan brand baru batik Mahkota.
“Di Laweyan fenomenanya semua seperti itu. Hampir semua industri batik leluhur di sini itu sempat gulung tikar. Dan beberapa mulai dikembangkan lagi oleh penerusnya masing-masing sejak 2000-an,” ujar dia.
Mereka mulai mengumpulkan pernak-pernik karya leluhurnya untuk disimpan dan dirawat. Sekaligus sebagai motivasi untuk bangkit kembali mengembangkan batik yang pernah berjaya di tangan leluhur mereka
Sebagai akademisi dan pelestari batik tulis di Kampung Batik Laweyan, Alpha memiliki koleksi ratusan batik yang diperkirakan sudah berumur lebih dari 60 tahun ke atas. Bahkan beberapa di antaranya diperkirakan telah berusia seratusan tahun. Salah satu koleksi batik miliknya yang paling menarik adalah batik klasik bermotif parang, lereng, truntum, kawung, nitik, ceplok, dan beberapa motif lain. Umumnya berwarna sogan atau latar cemang atau beldak (latar putih) untuk batik-batik khas Jogjakarta.
“Saya nyebutnya batik kuno karena usianya sudah tua. Kalau di UU Cagar Budaya itu usianya sudah lebih dari 50 tahun. Ini bisa dibuktikan dengan struktur kain dan sebagainya,” ujar dia.
Kalau secara motif dan corak tentu beragam, di masa ini ada berbagai jenis. Mulai dari motif klasik atau dikenal motif tradisional, semi kontemporer, dan kontemporer.
“Yang klasik ini ada parang. Usianya saya kurang tahu, yang jelas kalau 60-70 tahun ada, mungkin juga lebih. Yang semi kontemporer ini ada juga, jadi motif dasarnya parang, tapi dikombinasi dengan motif ceplok atau lainnya. Batik-batik yang model begini yang khas disebut batik saudagaran, khas Laweyan,” kata Alpha.
Salah satu koleksi lawasan yang paling dia sukai adalah batik Tiga Negeri yang terawat dengan baik dan masih lengkap dengan etiket (label) yang masih terpasang di kain batik tersebut. Batik Tiga Negeri itu merupakan kombinasi yang pembuatannya dilakukan di tiga lokasi berbeda, yakni Pekalongan, Lasem, dan Solo. Pekalongan dengan gambar yang lebih realis, Lasem yang lebih berwarna, dan Solo dengan warna sogan (kuning kecoklatannya).
“Yang bisa jadi acuan, batik-batik dengan motif klasik ini pasti tidak ada nama pembuatnya. Sebab, para pengerajin waktu itu mempersembahkan karya-karya mereka itu untuk raja,” ujar dia.
Mereka beranggapan karya datang dari Tuhan, sementara manusia atau perajin hanya alat. Ini yang bisa dibedakan dengan batik-batik di luar keraton yang kadang dilengkapi dengan nama pembuatnya dan sebagainya. Ini juga yang membedakan batik-batik saudagaran produksi Laweyan dan batik Kauman yang umumnya dipersemahkan untuk keraton.
Selain batik-batik berusia tua, Alpha dan warga Kampung Batik Laweyan kini juga lebih peduli akan peninggalan-peninggalan lain yang masih mereka temukan sampai hari ini. Salah satunya adalah koleksi etiket (label) perusahaan yang memproduksi batik tersebut.
Alpha memiliki banyak koleksi etiket yang konon semuanya merupakan produsen batik di Kampung Batik Laweyan. Koleksi-koleksi itu dia simpan dengan rapi, bahkan sebagian ada yang dibingkai dan disimpan di sebuah bingkai kaca khusus. Ini untuk mengenang kegagahan leluhur di masa lampau.
Dalam koleksi itu tertera banyak label produsen batik yang biasanya ditempel di dalam kain atau ditempel ke bungkus batik yang diperjualbelikan pada waktu itu. Salah satunya merupakan label batik Puspowiyoto milik leluhurnya yang dilengkapi dengan keterangan berupa batik halus di etiket tersebut.
“Banyak warga sini yang malah kaget waktu lihat kumpulan etiket ini. Oh ini batik mbah buyut saya dan sebagainya. Ahhirnya mereka baru sadar kalau hal-hal semacam ini bisa menegaskan eksistensi karya-karya leluhur mereka. Dulu hal-hal semacam ini dianggap tidak ada nilainya, tapi sekarang sudah lebih banyak yang perduli. Rata-rata etiket-etiket ini sejak era sebelum merdeka,” kata Alfa.
Untuk merawat pernak-pernik peninggalan masa lalu dan batik-batik berusia tua itu, Alpha menyiapkan ruang penyimpanan khusus. Berkas-berkas tertulis termasuk etiket itu disimpn dalam almari khusus dan sebagian di tata rapi dalam kaca agar menjadi sebuah pajangan. Sementara kain batik berusia tua itu dipajang di sejumlah gawangan. Sementara sebagian lain disimpan di almari kayu yang secara berkala akan dikeluarkan untuk diangin-anginkan.
“Sekarang warga saya minta menyimpan (pernak-pernik peninggalan). Jangan dibuang. Harus dirawat agar memiliki nilai untuk edukasi,” beber Alpha. (ves/bun)
Editor : Damianus Bram