RADARSOLO.COM – Jelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) meminta masyarakat yang tergabung dalam partai politik (parpol) untuk tidak menganggap partainya paling benar atau terlalu fanatik.
Kewaspadaan ini perlu dibentengi karena masuknya jaringan radikalisme dan intoleransi lewat partai, bisa saja terjadi.
“Jangan satu simbol dikatakan paling benar. Karena teroris sudah tidak menggunakan simbol-simbol. Tidak ada kaitannya antara agama dan teroris, itu dipaksakan," ungkap Direktur Pencegahan BNPT Prof Irfan Idris.
Meskipun demikian, BNPT mengaku tidak mengurusi segala hal tentang partai. Akan tetapi dia mengajak masyarakat membanjiri dunia dengan narasi kearifan lokal yang mempersatukan. Ini agar tidak mudah terpancing dengan hal-hal negatif.
Dia menilai media digital gampang menyalurkan informasi menyesatkan dan menjurus saling adu domba. Di tahunpolitik, peluang sangat besar untuk ditunggangi. Idris menyebutkan ada beberapa pihak yang selalu membuat narasi dengan muatan politik, namun sejatinya tujuannya guna perpecahan.
"Memang ada orang yang setiap hari kerjaannya membuat narasi-narasi yang indah dilihat dan dibaca, makin masif di tahun politik seperti ini ya. Akan tetapi isinya berbahaya, tujuannya menghancurkan. Seolah-olah mempersatukan dan sesuai budaya, tapi aslinya tidak," imbuhnya.
Adanya tantangan pemecah persatuan saat ini tidak hanya secara nyata, namun juga di dunia maya. "Dulu offline, sekarang online. Tidak mengenal dimensi waktu dan tempat. Kita harus memiliki katalisator persatuan," tegasnya. (atn/nik)
Editor : Damianus Bram