FENOMENA cuaca panas yang saat ini terjadi, dapat memicu bencana kebakaran yang cukup masif. Bencana kebakaran di Kota Solo diprediksi cukup tinggi dibandingkan daerah lain. Mengingat kondisi daerah ini secara geomorfologi termasuk daerah cekungan.
Ketika suatu daerah termasuk dalam daerah cekungan, maka akan membuat panas semakin terjebak. Seperti halnya asap rokok yang dihembuskan di daerah datar maka akan mudah hilang asapnya karena tertiup angin. Berbeda jika asap rokok ditiupkan di tempat cekungan, akan terjebak di dalam cekungan tersebut.
Fenomena ini sama halnya yang terjadi di Kota Bengawan. Wilayah ini sangat padat penduduk sehingga akan menghasilkan gas CO2 atau gas rumah kaca lebih banyak. Gas pemicu panas ini akan terjebak dan membuat sinar matahari berputar-putar di situ. Sehingga membuat cuaca akan semakin panas, jika dibandingkan daerah lainnya.
Hal inilah yang semakin memicu timbulnya bencana kebakaran makin tinggi. Maka jika dilihat dari potensinya, Kota Solo sangat rentan terjadi kebakaran dibandingkan daerah lainnya. Ditambah adanya kondisi perubahan iklim panas yang makin tinggi diluar dari kebiasaan. Maka di daerah Solo akan mudah menimbulkan percikan api pemicu kebakaran.
Sumber utama timbulnya api berdasarkan ilmu lingkungan, yakni adanya segitiga emas. Ditambah di suhu ekstrem saat ini, segitiga emas akan semakin kuat menimbulkan api. Adapun segitiga emas pemicu kebakaran yaitu: Pertama, adanya oksigen yang dibawa oleh angin. Kedua, sumber panas. Ketiga, adanya benda atau bahan yang mudah terbakar.
Kebakaran di lingkungan perumahan atau padat penduduk bisa dipicu dari kebocoran gas elpiji atau benda-benda lainnya yang mudah terbakar. Adanya gesekan antara ranting kering. Ada juga yang sering terlupakan dan dianggap remeh masyarakat yakni daun-daun kering di atas atap rumah yang tidak sempat dibersihkan juga bisa menimbulkan percikan api jika terkena segitigas emas tersebut.
Maka bencana kebakaran tidak hanya bersumber dari korek api saja. Ditambah kondisi panas di Solo yang sudah mencapai angka 38-40 derajat celsius. Serta sinar matahari yang terik akan mengoptimalkan segitiga emas lebih fokus untuk menghasilkan percikan api. Hal tersebut termasuk pada fenomena fisik.
Lalu bagaimana cara memutus rantai kebakaran tersebut? Secara sederhana, yang bisa dilakukan, masyarakat harus memproteksi bahan-bahan yang mudah terbakar. Perlu adanya pendinginan, disimpan ditempat yang teduh atau dibahasai untuk meminimalisir timbulnya api. Sehingga segitiga emas, pemicu api itu bisa dihilangkan.
Jika salah satunya saja, dari segitiga emas itu tidak ada atau dihilangkan, maka dimungkinkan akan menimbulkan kebakaran. Paling utama yang bisa dilakukan yakni mengamankan bahan-bahan yang mudah terbakar t. Sedangkan untuk oksigen dan sumber panas memang tidak bisa untuk dikendalikan.
Dalam beberapa waktu terakhir, cuaca panas memang melanda sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Hal ini tak lepas dari fenomena El Nino yang sudah menyapa wilayah Indonesia sejak Juli lalu. Kondisi cuaca panas memang lebih rentan menimbulkan percikan api.
Di lain sisi, timbunan sampah organik bisa menghasilkan gas metan yang mudah terbakar. Kedua hal ini jika dikombinasikan dapat memicu kebakaran. Ditambah lagi, ketika cuaca panas dan musim kemarau, air untuk memadamkan api sulit dijangkau. Maka kewaspadaan masyarakat dan pemerintah perlu ditingkatkan untuk mencegah terjadinya bencana kebakaran dan bencana lain yang ditimbulkan dari perubahan cuaca yang ekstrim. (Disarikan dari wawancara wartawan Radar Solo Septian Refvinda dengan Prabang Setyono Pakar Lingkungan UNS)
Editor : Damianus Bram