Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Konflik Tak Berkesudahan, Bisa Mencoreng Wibawa Keraton Kasunanan Surakarta

Antonius Christian • Rabu, 11 Oktober 2023 | 16:33 WIB
SIAGA: Dua prajurit Keraton Kasunanan Surakarta tampak berjaga di kawasan Kori Kamandungan Keraton Kasunanan Surakarta, kemarin.
SIAGA: Dua prajurit Keraton Kasunanan Surakarta tampak berjaga di kawasan Kori Kamandungan Keraton Kasunanan Surakarta, kemarin.

RADARSOLO.COM - Konflik yang terjadi di internal keluarga Keraton Kasunanan Surakarta menjadi perhatian legislatif. Mereka menyayangkan kejadian ini. Sebab, akan berimbas pada wisata hingga kegiatan di keraton.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Surakarta Asih Sunjoto mengaku prihatin atas konflik yang kembali terjadi di internal keraton. Mengingat dari dulu konflik ini tak kunjung selesai. Kemudian kubu yang berseteru hanya kelompok itu-itu saja. 

"Padahal ini masalah internal keluarga, namun dampaknya sangat besar. Seharusnya tidak sampai publik tahu. Karena mau tidak mau, keraton adalah representasi Kota Solo. Merupakan wajah dari budaya warga Solo. Namun konflik ini seakan tidak ada ujungnya," papar Asih.

Di lain sisi, lanjut Asih, pemkot saat ini terus mempromosikan Kota Bengawan sebagai kota ternyaman, berbudaya, dan memegang teguh adat istiadat. Khususnya adat Jawa. Namun keraton yang diharapkan bisa mendukung slogan ini malah terus berkonflik. 

Ditambahkan Asih, dengan adanya konflik ini tentu akan berpengaruh pada pariwisata di Kota Solo. Sebab, konflik ini pasti sudah tersebar luas baik melalui media. Sehingga yang mengetahui adanya konfilik bukan hanya warga Solo, namun sampai luar daerah. Kondisi ini membuat wisatawan akan berpikir ulang berkunjung di Kota Solo. Khususnya ke keraton.

"Padahal kita tahu, banyak wisatawan luar kota ingin berkunjung ke keraton. Selain untuk berwisata, mereka ini ingin mengenal benda-benda serta bangunan bersejarah. Ada juga yang datang ke keraton untuk melakukan studi. Tapi malah konflik terus. Ini sangat disayangkan," ujarnya. 

Lalu, apakah konflik ini berimbas pada rencana revitalisasi keraton? Asih mengatakan bisa iya, bisa tidak. Hal tersebut tergantung dari kebijakan wali kota sebagai pemangku kebijakan di eksekutif. Tetapi dia berharap konflik ini tak mengganggu wacana revitalisasi. Sebab, rencana revitalisasi ini tidak ada hubungannya dengan konflik yang ada di keluarga raja. 

Hal senada juga diungkapkan Anggota Komisi IV DPRD Kota Surakarta Ginda Ferachtriawan. Sebagai legislator yang memiliki darah Keraton Surakarta, dia bingung sekaligus menyayangkan konflik yang terjadi dikeluarga besarnya. 

"Bingung karena awal tahun lalu, kedua kubu sudah dipertemukan. Sudah sepakat saling bermaaf-maafan, dimediasi wali kota di Loji. Hingga akhirnya pemerintah mewujudkan revitalisasi keraton. Namun kenyataannya masalah belum selesai," tutur Ginda. 

Dia juga menyayangkan karena pemkot sudah mengelontorkan dana. Ginda mendapat infomasi bahwa dinas pariwisata dan kebudayaan sejak dua tahun terakhir menganggarkan dana lebih dari Rp 700 juta dari APBD Kota Surakarta. Anggaran itu untuk kegiatan parade defile prajurit keraton yang digelar setiap Sabtu sore di halaman Kori Kamandungan. Pada APBD 2024 juga sudah dianggarkan nominal yang sama untuk kegiatan serupa. 

Namun bisa saja karena kejadian ini kegiatan itu dihentikan, dan tahun depan dicoret atau tidak dianggarkan lagi.

"Istilahnya sponsornya pemkot, kemudian menggandeng keraton. Bisa saja distop oleh pemkot. Daripada diberikan kepada pihak yang konfliknya tidak selesai-selesai, mending disalurkan untuk kegiatan yang lain," papar Ginda. 

Selain itu banyak kegiatan yang terlaksana di keraton bisa hilang. Seperti dimulainya kembali latihan tari di keraton. Di mana itu berasal dari swadaya para sentana keraton. Kegiatan ini cukup menjadi magnet bagi wisatawan, tidak hanya lokal, namun juga mancanegara. 

“Seharusnya semua pihak bisa menahan ego. Bisa diselesaikan secara kepala dingin. Itukan konfilik keluarga, orang lain tak perlu tahu. Eh malah konfliknya di Kori Kamandungan, muka dari keraton, di mana banyak orang bisa melihat. Tentu mencoreng kewibawaan dari keraton," ungkapnya. 

Soal revitalisasi, Ginda memperkirakan tidak akan berpengaruh. Tapi memang bisa saja muncul isu pembatalan revitalisasi. Apalagi proses lelang batal. Pasti akan ada yang mengaitkan.

"Padahal batalnya lelang kemarin murni masalah teknis. Tapi dengan konfilik ini masyarakat akan menilai revitalisasi gagal karena adanya konflik keluarga," tuturnya.  (atn/bun)

Editor : Damianus Bram
#ikon kota solo #DPRD Kota Surakarta #konflik keraton solo #keraton kasunanan surakarta