RADARSOLO.COM - Persoalan stunting masih jadi pekerjaan yang harus cepat diselesaikan di Jawa Tengah. Termasuk Kota Solo yang tengah mengebut upaya untuk mencapai nol stunting. Dengan semangat gotong royong, pemerintah dan masyarakat Kota Solo keroyokan atasi stunting lewat penguatan gizi. Saat itulah, cafe bubur bayi hingga dapur sehat ibu hamil jadi andalan.
Salah satu wilayah yang cukup getol dalam penanganan kasus stunting adalah Kelurahan Mojosongo. Sejak beberapa tahun terakhir, warga di wilayah setempat gencar melakukan program-program perbaikan gizi bagi ibu hamil dan bayi di bawah usia dua tahun. Di sanalah Program Baby Cafe Bintangku hadir untuk mensubsidi gizi bayi dan ibu hamil di Kelurahan Mojosongo.
“Program ini sejak 2018, bisa dibilang semacam dapur sehat untuk warga di Mojosongo dan sekitarnya,” kata Dody Sudarsono, penggagas Program Baby Cafe Bintangku di Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo.
Embrio Baby Cafe Bintangku dimulai dari program perbaikan gizi yang diinisiasi oleh kelurahan setempat. Pandemi Covid-19 mendorong pemangku wilayah setempat untuk makin aktif memberikan subsidi gizi bagi warganya yang membutuhkan. Khususnya untuk bayi dan ibu hamil yang ada di wilayah tersebut.
“Dulu itu istilahnya masih program pengentasan gizi buruk dan gizi kurang, jauh sebelum istilah stunting terkenal. Kebetulan waktu itu ada bayi di wilayah kami yang mengalami gizi buruk. Dari sana kami mulai mencari cara agar program ini terus bisa berjalan tanpa mengandalkan anggaran dari pemerintah. Kemudian muncul ide untuk memulai usaha bubur sehat. Alhamdulillah bertahan sampai hari ini,” kata pria yang menjabat sebagai Ketua Forum Kesehatan Kelurahan (FKK) Mojosongo itu.
Dengan semangat tetap memberikan gizi baik lewat kemandirian, akhirnya Baby Cafe Bintangku ini menjelma menjadi program pemberdayaan masyarakat yang memiliki pemasukan rutin dari penjualan bubur sehat untuk bayi, ibu hamil, dan lansia.
Lima tahun berselang, Baby Cafe Bintangku terbukti menjadi salah satu pelopor program dapur sehat, yang akhirnya sukses dalam pemberdayaan masyarakat. Selain memberikan subsidi gizi pada bayi dan ibu hamil, Baby Cafe Bintangku juga menjadi penyambung hidup bagi warga yang terlibat di dalamnya. Mulai dari warga yang membantu mempersiapkan masakan, hingga mereka yang berkeliling menjajakan bubur murah namun kaya gizi.
“Ada tiga orang kader yang dipasrahi untuk memasak, rotasinya delapan hari sekali bergiliran. Mereka mendapat Rp 500 untuk setiap cup yang terjual. Tapi kalau kader yang melayani penjualan semuanya malah sukarela. Ya paling tidak bisa sedikit menambah pemasukan dari yang membantu memasak,” terang Dody.
Baby Cafe Bintangku memiliki dua jenis bubur yang bahan dasarnya dari olahan nasi. Yakni bubur kasar yang dijual Rp 3.500 per cup dan bubur halus Rp 4.000 per cup.
Bubur sehat olahan FKK Mojosongo ini juga memiliki delapan varian rasa, di mana menunya selalu berganti setiap harinya. Dari semua varian, bubur salmon yang legit dan kaya omega 3 lah yang jadi favorit masyarakat.
Diakui Dody, Baby Cafe Bintangku adalah usaha lembaga yang selalu diawasi dan dikoordinasikan dengan pihak puskesmas. Standar pembuatan buburnya juga sesuai dengan petunjuk WHO tentang makanan sehat untuk bayi.
"Kami tidak pakai perasa tambahan seperti garam atau gula. Maka selain untuk bayi, bubur ini juga disukai orang dewasa yang terbiasa diet dan makan makanan sehat. Kami buka setiap hari, sehari bisa jual sampai 60 cup. Kalau tidak habis bisasanya dibagikan ke posyandu-posyandu di Mojosongo,” beber dia.
Hingga saat ini, Baby Cafe Bintangku terus mengisi ruang-ruang kosong untuk memenuhi asupan gizi bagi bayi dan ibu hamil di Kelurahan Mojosongo. Kerja keras itu pun akhirnya berbuah manis dengan berkurangnya kasus stunting dari tahun ke tahun di kelurahan setempat. Mereka yakin cita-cita nol stunting yang didengungkan Pemkot Solo mampu diwujudkan di Kelurahan Mojosongo.
“Ini salah satu cara kami agar orang tua bisa memenuhi asupan gizi untuk anak-anak. Kami juga terbuka mengajarkan pembuatan bubur sehat ini untuk warga agar saat kami tidak beroperasi, misal saat Lebaran. Sehingga para orang tua yang memiliki bayi dan ibu hamil bisa memenuhi asupan gizi yang dibutuhkan,” beber Dody.
Beralih dari Mojosongo, cerita tak kalah inspiratif tentang semangat keroyokan atau gotong royong atasi stunting juga ada di Kelurahan Kepatihan Kulon, Kecamatan Jebres, Solo. Ibu-ibu di kelurahan tersebut menghadirkan Program Dapur Sehat Atasi Stunting yang dikenal DAHSAT.
“Dapur sehat ini untuk memenuhi gizi warga kami yang masuk kategori rawan risiko stunting. Sebetulnya kalau kasus stunting di keluarahan kami tidak ada, tapi karena ada ibu hamil dan bayi di bawah dua tahun (baduta) yang jumlahnya sekitar 40 orang, akhirnya kegiatan ini kami lakukan,” kata Prihatin, salah seorang penggerak Program Dahsat di Kelurahan Kepatihan Kulon.
Dalam menyiapkan menu siap santap yang sehat dan bergizi tinggi itu, Prihatin bersama tujuh ibu-ibu lain yang merupakan ketua RT dan Posyandu itu meracik menu sehat yang hendak dibagikan kepada warga. Mereka rela meliburkan usaha masing-masing pada waktu tertentu agar bisa terlibat dalam program pengentasan stunting yang ada di wilayah mereka.
Mereka dengan semangat tinggi menyajikan sarapan dan santap siang yang lezat nan bergizi bagi 40 warga hamil dan baduta itu.
“Untuk sarapan jam 04.00 itu sudah mulau racik-racik, biar jam 06.00 sudah bisa dibagikan ke warga. Kalau untuk makan siangnya, jam 11.00 kami mulai persiapan, nanti jam 13.00 kami bagikan ke warga,” beber Prihatin.
Kekompakan ibu-ibu Kelurahan Kepatihan Kulon ini diharapkan bisa ditularkan ke generasi yang lebih muda. Bagi ibu-ibu ini, keaktifan dan keterlibatan mereka di dapur sehat bukan sekadar soal rela menyisihkan waktu untuk menyajikan makanan sehat pada warga. Namun, juga ada nilai edukasi yang bisa mereka tularkan ke warga-warga lain. Dengan harapan suatu saat ada sukarelawan-sukarelawan yang mau meneruskan perjuangan mereka.
“Sebetulnya ini memang program dari kelurahan. Saat pertama kali ditawari, kami langsung mau. Walau di wilayah kami tidak ada kasus stunting, upaya antisipasi harus terus dilakukan. Ini yang kami upayakan untuk warga di sini. Kami harap ini bisa menginspirasi warga yang lain. Minimal suatu saat bisa menggerakkan warga sendiri sebelum dicontoh wilayah lain,” papar dia.
Upaya masyarakat itu sejalan dengan langkah Pemkot Solo demi mencapai nol kasus baru di 2024 mendatang. Berdasarkan data survei stunting terbaru, sedikitnya masih ada 16,2 persen kasus stunting dari total bayi-balita yang ada di Kota Solo. Atau setara 4.000-an kasus aktif.
Sesuai Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penanganan Stunting di Indonesia, angka 16,2 persen itu wajib diturunkan sampai menyentuh 14 persen.
“Data survei kita masih 16,2 persen. Tapi kalau melihat data penimbangan, jumlah kasus stunting di Solo di angka 3,4 persen atau setara 1.050 kasus. Hasil survei jumlahnya lebih banyak karena yang bukan warga Solo juga tercatat selama berdomisili di Solo. Sementara hasil penimbangan jumlahnya lebih sedikit, karena tidak semua balita bisa datang. Rata-rata kehadiran juga baru 80 persen,” papar Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Solo Purwanti.
Merujuk angka yang masih sedemikian besar itu, Pemkot Solo mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak yang ikut ambil bagian dalam penanganan stunting. Baik itu yang dilakukan pihak swasta maupun gotong royong masyarakat. Dengan kerja bersama itu, tidak menutup kemungkinan bila 2024 target nol kasus baru itu bisa diwujudkan.
“Pengentasan stunting tidak bisa sendiri, harus ada kerja sama pentahelik termasuk dengan swasta dan masyarakat. Kita optimistis bisa menyelesaikan masalah ini dengan mengoptimalkan peran Tim Pendamping Keluarga serta edukasi para kader kesehatan kepada calon penganting ibu hamil dan ibu menyusui,” papar Purwanti.
Target dan tujuan yang coba diwujudkan oleh Pemkot Solo ini pun sejalan dengan yang digarap oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng). Khususnya dalam hal penanganan stunting di Jateng.
Belum lama ini, BKKBN Provinsi Jateng menggelar pelatihan bagi Tim Pendamping Keluarga di Solo dan sekitarnya melalui kegiatan Edukasi Pencegahan Stunting di Seribu Hari Pertama yang dihelat di Graha Saba Buana.
Kala itu, Plt Kepala Perwakilan BKKBN Jateng Eka Sulistia Ediningsih mendorong pemerintah daerah untuk mengentaskan kasus stunting di wilayah masing-masing. Menimbang kasus stunting di Jateng masih berada di angka 20,8 persen (data survei status gizi Indonesi tahun 2022).
Pemprov Jateng menargetkan angka stunting di Jateng turun hingga 14 persen pada 2024 mendatang.
“Upaya penurunan stunting di Jawa Tengah masih perlu perhatian. Perlu konvergensi dan pelaksanaan lima pilar percepatan penanganan stunting. Mudah-mudahan bisa di bawah 14 persen (sesuai target parlensi stunting tahun 2024, Red). Kita harus upayakan 2023-2024 tidak ada new stunting,” tegas dia. (ves/ria)
Editor : Syahaamah Fikria