RADARSOLO.COM – Dapur besar Masjid Riyadh, Pasar Kliwon, Solo telah dibuka untuk mempersiapkan jamuan para jemaah haul Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Sabtu dan Minggu (4-5/10).
Para relawan sibuk menyiapkan hidangan berupa nasi kebuli, gulai, hingga roti.
"Kurang lebih tahun ini sama seperti tahun lalu. Kami mengolah 250 hingga 300 ekor kambing dan lima ton beras. Semaksimal mungkin kami memasak sejumlah itu, karena memang tempat kami sudah tidak mencukupi," kata Abdullah AA, kerabat Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.
Tradisi membagikan makanan memang menjadi agenda yang tak pernah absen di setiap peringatan haul. Nasi kebuli diberikan kepada para jamaah saat puncak rangkaian haul, Sabtu pagi (3/10).
Sementara sebanyak 2.000 roti berisi daging akan dibagikan kepada para jemaah pada agenda maulid, Minggu (4/10).
"Kalau yang Sabtu itu nasi kebuli, sedangkan Minggu ada sayur bayem, roti, gulai, dan kuah," ujar dia.
Beberapa menu khas itu disiapkan untuk menyambut ribuan jemaah haul yang akan menyemut di sepanjang Jalan Kapten Mulyadi, yang menjadi lokasi kegiatan.
Mereka berasal dari berbagai penjuru daerah di tanah air. Bahkan, tak sedikit yang berasal dari luar negeri.
"Kami di sini juga dibantu para relawan dan tetangga untuk menjamu para jemaah. Kami berupaya menyediakan yang terbaik bagi mereka," kata dia.
Habib Ali bin Hasan, putra Imam Masjid Riyadh yang mewakili keluarga Habib Ali bin Hasan mengatakan, tradisi makan nasi kebuli khas Timur Tengah memang menjadi suguhan lazim leluhurnya untuk menyambut para tamu.
"Nasi kebuli itu hampir mirip seperti nasi goreng tapi bumbunya beda. Bisa dibilang makanan favorit bagi orang Arab untuk menjamu tamu," papar dia.
Habib Ali tak memungkiri, banyak jemaah yang antusias mendapatkan nasi kebuli saat haul karena dianggap memiliki keberkahan sendiri.
Itu mengingat, nasi tersebut ikut didoakan selama kegiatan berlangsung. Sehingga jemaah sangat menantikan makanan yang dibagikan panitia.
"Sampai kadang mereka ambil dan dibawa pulang ke rumah karena mereka menganggap itu sebagai keberkahan," pungkas dia. (ul/bun/ria)
Editor : Syahaamah Fikria