RADARSOLO.COM – Dr Mueen Al Shurafa, dokter spesialis anestesi asal Palestina yang meninggal terkena bom Israel beberapa waktu lalu, diketahui sempat ingin mundur dari Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.
Kepala Program Studi PPDS Anestesiologi dan Reanimasi FK Universitas Sebelas Maret (UNS) periode 2015-2019, Dr Purwoko, dr, Sp An, KAKV KAO mengatakan, dr Mueen merupakan lulusan S2 kedokteran dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta.
Dilanjutkan dengan mendaftar Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di UNS.
“Beliau itu orangnya baik, santun, dan ada beberapa kalimat bahasa Indonesia yang beliau tidak tahu. Jadi dia lebih lancar berbahasa Inggris dan Arab,” ucap Dr Purwoko, Rabu (8/11).
Dia menceritakan, saat awal mengikuti pendidikan di PPDS Anestesiologi dan Reanimasi FK UNS, dr Mueen sering kali masih kesulitan dalam memahami bahasa Indonesia.
Misal saat diajak berbicara dengan nada cepat, dr Mueen tak bisa sepenuhnya memahami.
“Sering itu beliau tanya ke saya, itu maksudnya apa? Kemudian saya jelaskan, baru ngeh beliau,” imbuhnya.
Bahkan, kata Purwoko, saat memasuki semester dua, dr Mueen sempat ingin mengundurkan diri karena terkendala bahasa.
Namun, akhirnya seiring berjalannya waktu dengan bantuan rekan yang lain dr Mueen mulai bisa memahami bahasa Indonesia.
“Saya rayu-rayu, jangan mundur. Saya bilang, tenaga kamu itu sangat dibutuhkan di negara kamu. Dan akhirnya bisa, walaupun harus lulus dengan 9 semester dan sampai terakhir kariernya juga sangat lancar,” bebernya.
Ya, dengan perjuangan keras, dokter Palestina itu akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan spesialisnya meski harus lulus setelah melalui sembilan semester.
Tekad kuat untuk membantu warga Gaza dengan bidang ilmu keahliannya menjadi pendorong utama dr Mueen hingga bisa lulus. Dan bergegas kembali pulang ke Gaza.
Dan, kemarin kabar duka datang yang menyebut dr Mueen Al Shurafa meninggal usai tempat tinggalnya terkena serangan bom Israel. Beruntung, keluarga dr Mueen selamat, dan kini mengungsi di Rafah. (ian/ria)
Editor : Syahaamah Fikria