RADARSOLO.COM – Craft (kerajinan) dan folk art (seni rakyat) bakal jadi fokus utama yang dilakukan Pemerintah Kota Solo dalam pengembangan Solo Kota Kreatif.
Rencananya, pengembangan subsektor kriya dan seni pertunjukan yang bernuansa tradisional akan jadi target pengembangan dalam waktu dekat.
Sekadar informasi, Kota Solo akhirnya resmi menjadi jaringan Kota Kreatif UNESCO atau UNESCO Creative Cities Network (UCCN) untuk sektor kerajinan dan seni rakyat pada 31 Oktober 2023 lalu.
Untuk mengoptimalkan hal tersebut, sejumlah rencana pengembangan akan dilakukan di sub sektor kriya dan seni pertunjukan.
“Yang diajukkan itu sebetulnya hal yang sudah rutin kami kerjakan saat-saat ini. Jadi bukan didaftarkan baru akan dilakukan, namun memang sudah jadi kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Mungkin kedepannya lebih ke pengembangan saja ya,” terang Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Anis Dyah Oktavianti, kemarin (10/12).
Solo masuk ke jaringan UCCN setelah lebih dulu Pekalongan, Jakarta, Bandung, dan Ambon dinyatakan masuk jaringan tersebut.
Tidak menutup kemungkinan pihaknya akan melakukan studi banding ke pemerintah daerah yang lebih dulu masuk ke jaringan kota kreatif tersebut.
Selain itu pihaknya juga akan melakukan sejumlah kerja sama dengan jejaring serupa dari negara-negara lain seperti Thailand, Uni Emirat Arab, dan Jepang.
“Nanti kami akan belajar ke kota-kota yang sudah lebih dulu masuk ke UCCN. Dalam empat tahun ini ada 3 negara yang paling tidak harus terjalin kerja sama (penyelenggaraan event kota kreatif, Red),” paparnya.
Dengan banyaknya event yang disiapkan dalam rangka Solo Kota Kreatif itu diharapkan mampu meningkatkan daya tarik wisata yang ada di Kota Bengawan.
“Nanti tahun baru akan kami umumkan di sana kalau kita sudah masuk jaringan kota kreatif dunia. Craft seperti pembuatan wayang kulit nanti juga akan kita tingkatkan, tidak menutup kemungkinan juga menggandeng kabupaten lain yang ada di sekitar,” imbuh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo Aryo Widyandoko. (ves/nik)
Editor : Damianus Bram