Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Polemik Kuliner Daging Anjing di Kota Solo, Sejumlah Pedagang Pilih Banting Stir karena Waswas

Silvester Kurniawan • Senin, 15 Januari 2024 | 13:20 WIB
Salah satu warung khas kuliner daging anjing di Solo sekarang ganti menu babi.
Salah satu warung khas kuliner daging anjing di Solo sekarang ganti menu babi.

RADARSOLO.COM - Bertahun-tahun kelangsungan bisnisnya digoyang isu gerakan stop konsumsi daging anjing, membuat para pedagang kuliner ekstrem ini ketar-ketir.

Kemudian memicu sebagian dari mereka untuk banting stir. Sementara yang lainnya pilih bertahan, meskiputi diliputi rasa waswas.

Di Kota Solo terdapat salah satu warung makan kuliner daging anjing legendaris. Dulu dikenal dengan sebutan Warung Pemuda. Setelah pindah lokasi, namanya diganti Hugjoss.

Setelah gerakan stop daging anjing kembali menggema, belum lama ini warung tersebut mengganti bahan baku sajian kulinernya.

Beralih ke kuliner daging babi. Praktis mulai awal tahun ini nama warungnya berganti jadi Babijoss.

“Baru beberapa minggu ini (ganti menu dan nama warung). Menunya ganti babi. Sudah tidak jual daging anjing lagi. Takut,” kata Kristianto, 51, pengelola warung Babijoss yang lokasinya di selatan kantor Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari itu.

Pantauan Jawa Pos Radar Solo, kondisi warung tersebut relatif sepi. Tak seperti biasanya saat masih jualan menu daging anjing.

Banyak pembeli yang datang, bahkan rela antre hanya untuk menikmati olahan kuliner daging anjing.

“Harus babat alas lagi. Soalnya banyak penikmat daging anjing, belum tentu doyan babi. Banyak pelanggan kecele dan tidak balik lagi. Pelanggan banyak yang hilang,” imbuh pria yang tak lain menantu pendiri warung yang sudah eksis sejak era 80-an tersebut.

Pria yang akrab disapa Kris tersebut menambahkan, bukan sekali ini gonta-ganti menu.

Dulu pernah mencoba banting stir jualan ungkepan daging ayam dan bebek. Alasannya sama, karena dulu juga terdampak gerakan stop makan daging anjing.

“Dulu pernah coba menu ungkepan, tapi prospeknya kurang baik. Akhirnya balik ke menu anjing setelah pasokan dagingnya normal. Sekarang kondisinya begini lagi (pasokan daging sulit),” bebernya.

Ya, pasokan daging anjing diakui Kris tidak stabil. Buntut penangkapan pemasok daging dari Jawa Barat, belum lama ini.

“Daripada nanti dilaporkan dan ditangkap aparat, mending jualan babi. Kalau jual daging anjing dianggap kriminal, mending babi saja seterusnya,” hemat Kris.

Tak hanya Hugjoss, langkah serupa diambil pedagang kuliner daging anjing di sekitar Terminal Tirtonadi Solo. Juga beralih ke menu babi.

Termasuk warung di kawasan Kelurahan Pajang, Laweyan. Bedanya, warung di Pajang beralih ke menu ayam dan mentok.

Bahkan ada pedagang di kawasan Purwosari, Laweyan yang pindah haluan jualan kelontong keliling dengan mobil.

Di sisi lain, beberapa warung kuliner daging anjing pilih bertahan. Meskipun harus main “petak umpet”.

Bahkan saat wartawan Koran ini mendatangi sejumlah warung di beberapa lokasi berbeda, mereka terkesan sangat tertutup. Alasannya tidak nyaman dan dianggap melakukan tindakan kriminalitas.

“Ya kalau ada pasokan daginya baru jualan. Kalau tidak ada yang tutup dulu. Terus terang usaha ini (jualan menu daging anjing) teganggu karena pecinta-pecinta hewan itu,” beber pedagang kuliner daging anjing yang enggan disebut nama dan lokasi warungnya. (ves/fer)

Editor : Damianus Bram
#kuliner ekstrem #Daging Anjing #kuliner #daging babi