RADARSOLO.COM – Pemilih muda dari generasi Z dan milenial bakal mendominasi di Pemilu 2024. Potensi besar ini bakal menjadi incaran, baik pilpres maupun pemilu legislatif, untuk mendongkrak suara.
Nah, ke mana suara mereka akan berlabuh pada Pemilu 14 Februari nanti?
Masih banyak pemilih pemula gamang dalam menentukan pilihan di Pemilu 14 Februari nanti. Mereka pun mencari informasi dari beragam media maupun tokoh panutannya.
Salah satunya adalah Dimas Febrian, 18. Dia mengaku baru kali pertama akan menggunakan hak pilihnya pada pemilu ini.
Untuk pileg, dia menimbang dari unsur kedekatan dengan calon anggota legislatif (caleg) yang dia kenal.
“Kalau pileg memilih yang tetangga saja mas. Misalnya satu kelurahan atau dari satu kecamatan. Jadi biar benar-benar bisa memperjuangkan keinginan warga di sini. Tapi kalau untuk pilpres saya belum punya pilihan,” kata dia saat ditemui Jawa Pos Radar Solo.
Warga Jebres ini mengaku banyak mendapat pandangan dari lingkungan di sekitarnya. Dia melihat ketokohan caleg dari interaksi dan bantuan yang diberikan kepada warga dan sejenisnya.
Sementara untuk pilpres dia lebih banyak bertanya pada orang-orang di sekitar, termasuk berdiskusi dengan orang tuanya.
Hal serupa diungkapkan Danis, 17. Warga Laweyan ini justru banyak mendapat arahan dari orang tuanya tentang siapa yang baik untuk dipilih pada pemilu nanti.
Dia mengaku tidak begitu tertarik dan belum begitu banyak melihat manfaat dari menggunakan hak pilihnya.
Namun dari berdiskusi dengan orang tua dia mulai memiliki pandangan akan sosok yang akan dia pilih ke depan.
“Sudah ada pandangan. Misalnya kalau calegnya ini saja, presidennya yang ini saya, begitu Mas. Yang paling banyak memengaruhi pilihan tentu orang tua. Saya ikut saja yang menurut orang tua baik,” hemat dia.
Berbeda dengan Jenar Selangit Andika Sasi Lembayung, 18. Dia memiliki pandangan lain dalam menggunakan hak pilihnya ke depan.
Siswa Kelas XII SMA di Kota Solo ini mengaku cukup aktif berdiskusi dengan kawan-kawannya terkait sosok pemimpin idela di masa mendatang.
“Saya dan kawan-kawan ini sebetulnya sering diskusi atau bahkan ngobrol ringan soal sosok dan program-program yang ditawarkan capres dan caleg. Jadi sepertinya sudah punya pandangan siapa yang akan saya pilih ke depan,” kata dia pada koran ini.
Dalam setiap diskusi yang membahas soal calon pemimpin ideal, dia dan kawan-kawannya rutin memantau media sosial kandidat-kandidat yang berkontestasi pada pemilu tahun ini.
Misalnya kandidat pilpres, dia akan dengan mudah membahas postingan-postingan di berbagai media sosial sang tokoh untuk jadi obrolan di antara teman-temannya.
Dia menganggap bisa melihat track record sang calon pemimpin.
“Kalau soal pilpres kan ketiga paslon itu pernah ada di pemerintahan. Dari sana saya dan kawan-kawan ini akan melihat program dan apa yang sudah dilakukan selama ini. Kira-kira cocok tidak dengan apa yang kami, anak muda ini inginkan,” terang pelajar yang akrab disapa Jeje ini.
Sebagai anak muda yang memiliki patokan ideal bagi pemimpin masa depan, Jeje dan kawan-kawannya mengaku kerap mengikuti informasi terbaru yang beredar terkait Pemilu 2024.
Mereka bahkan mengaku menyaksikan debat pilpres yang disiarkan di televisi secara utuh agar lebih yakin saat memberikan dukungannya ke depan.
“Anak muda itu bukan hanya diwakili dari usia yang masih muda, namun lebih pada program yang mendukung potensi dan pengembangan anak muda ke depan. Misalnya di isu-isu lingkungan, lapangan pekerjaan, dan soal perekonomian seperti nilai UMK/UMR yang masih rendah dan sebagainya,” hemat dia.
Sebab itu, dia dan kawan-kawannya membentuk gerakan diskusi yang disebut dengan istilah Soloisme.
Yakni, kelompok diskusi kritis untuk mengajak orang-orang seusianya agar melek politik. Ini dilakukan karena ada beberapa kawannya yang masih apatis terhadap dampak pemilu untuk diri mereka sendiri.
“Saya pikir anak muda seperti saya ini jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang acuh atau kurang peduli dengan pemilu. Meski belum begitu banyak saya pikir jumlahnya akan terus meningkat. Jadi perlu edukasi. Intinya jangan sampai golput,” terang dia. (ves/bun)
Editor : Damianus Bram