Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Tingalan Jumenengan Dalem Paku Buwono XIII Hanya Sebar Sedikit Undangan, Keraton Surakarta Beberkan Alasannya

Silvester Kurniawan • Selasa, 6 Februari 2024 | 01:28 WIB
KHIDMAT: SISKS Paku Buwono XIII Hangabehi (di tengah duduk) dikelilingi keluarga besar Kasunanan Surakarta saat acara Hajad Dalem Tingalan Dalem Jumenengan ke-19, kemarin. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
KHIDMAT: SISKS Paku Buwono XIII Hangabehi (di tengah duduk) dikelilingi keluarga besar Kasunanan Surakarta saat acara Hajad Dalem Tingalan Dalem Jumenengan ke-19, kemarin. (M. IHSAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Upacara peringatan kenaikan tahta raja atau Tingalan Dalem Jumenengan ke-20 SISKS Paku Buwono XIII Hangabehi akan dihelat secara sederhana, Selasa (6/2).

Selain meniadakan kirab ageng, Keraton Kasunanan Surakarta juga membatasi jumlah undangan.

Sehingga Tingalan Dalem Jumenengan PB XIII kali ini akan jauh lebih sederhana ketimbang peringatan di tahun-tahun sebelumnya.

Salah seorang kerabat keraton, KP Eddy Wirabhumi membenarkan bahwa upacara peringatan kenaikan tahta raja atau Tingalan Dalem Jumenengan tahun ini dihelat secara sederhana.

Ini dilakukan karena pelaksanaan berdekatan dan kental dengan nuansa Pemilu 2024.

Sehingga undangan yang disebar pun akan sangat terbatas.

“Tamu undangan tidak banyak. Dari Gusti Moeng (GKR Wandansari, adik PB XIII) saja malah tidak mengeluarkan undangan," tutur Eddy Wirabhumi, Senin (5/2).

"Tapi kalau dari Sinuwun SISKS Paku Buwono XIII Hangabehi kemarin dijelaskan hanya 200 undangan saja. Istilahnya sesederhana mungkin, namun akan tetap khidmat,” imbuh dia.

Dengan jumlah tamu undangan yang cukup terbatas itu, suasana peringatan kenaikan tahta raja tidak akan seramai sebelum-sebelumnya.

Di mana pada Tingalan Dalem Jumenengan tahun-tahun sebelumnya, selalu dihadiri raja-raja nusantara hingga pejabat pemerintahan, baik dari tingkat derah maupun pusat.

Bahkan, sederhananya pelaksanaan upacara adat tahunan itu juga terlihat dari tak adanya prosesi kirab ageng, usai prosesi kenaikan tahta.

Baca Juga: Upah Tak Dibayarkan, Seorang Kuli Ngamuk di Alun-Alun Kidul

“Kan memang tidak setiap jumenengan harus kirab, tahun ini tidak ada. Pertimbangannya jelang pelaksanaan pemilu, di mana semuanya juga punya kesibukan sendiri-sendiri. Makanya pelaksanaannya sederhana,” beber Eddy.

Sekadar informasi, prosesi adat peringatan kenaikan tahta raja atau Tingalan Dalem Jumenengan ke-20 Paku Buwono XIII itu akan dimulai pada Selasa (6/2) pagi hingga siang hari.

Seluruh tamu diminta untuk memasuki lokasi acara maksimal pukul 09.30 WIB.

Kemudian, acara adat akan dimulai pukul 10.00 WIB, dan dijadwalkan rampung pada tengah hari.

“Persiapan sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari. Penari Bedoyo Ketawang juga sudah latihan full selama sepekan. Semuanya sudah siap,” papar dia.

Sebelumnya, KP Dani Nur Adiningrat juga menyebut, suasana pemilu membuat Keraton Kasunanan Surakarta sengaja menggelar upacara peringatan kenaikan tahta raja secara sederhana.

Tanpa kirab ageng seperti biasanya.

“Menimbang situasi dan kondisi jelang pemilu, kemungkinan kirab tidak digelar langsung seperti biasanya. Seandainya digelar kemungkinan tidak dalam waktu bersamaan,” terang dia. (ves/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#kirab #pemilu #kenaikan tahta raja #Paku Buwono XIII #Tingalan Dalem Jumenengan #keraton kasunanan surakarta