Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Apa Makna Ungkapan Marhaban Ya Ramadhan? Berikut Penjelasan Rektor UMS Surakarta Sofyan Anif

Fauziah Akmal • Selasa, 12 Maret 2024 | 10:55 WIB
Rektor UMS Surakarta Sofyan Anif (kiri) saat terima penghargaan dari Radar Solo. (Dok.Radar Solo)
Rektor UMS Surakarta Sofyan Anif (kiri) saat terima penghargaan dari Radar Solo. (Dok.Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Marhaban ya Ramadhan sering kali disebut-sebut untuk mengungkapkan kegemberiaan menyambut bulan suci Ramadhan. Ada alasan di balik pemilihan kata ini.

Ungkapan Marhaban ya Ramadhan sangat populer di Indonesia. Artinya ”Selamat Datang Wahai Ramadhan”. Kata Marhaban lebih dipilih dibandingkan dengan Ahlan wa Sahlan meskipun keduanya sama-sama berarti selamat datang.

Menurut Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Sofyan Anif, marhaban memiliki derajat keistimewaan yang lebih tinggi.

”Marhaban atau selamat datang, itu ucapan yang diperuntukkan kepada tamu, sesuatu, atau nilai yang akan membawa manfaat besar bagi diri kita. Sedangkan ahlan wa Sahlan kepada sesuatu atau seseorang yang tidak lebih tinggi. Misalnya kepada teman dan sejawat cukup dengan ahlan wa sahlan,” paparnya.

Hal itu menunjukkan, bulan Ramadhan memiliki nilai sangat besar. Selaras dengan kesepakatan para ulama yang menyebut Ramadhan sebagai syahrul mubarak atau bulan yang penuh berkah.

”Bahkan ulama juga sepakat (Ramadhan sebagai) Syahru Ni'mah, bulan yang penuh dengan nikmat. Ada lagi ulama yang mengatakan Syahru Maghfirah atau bulan ampunan karena orang pasti pernah melakukan dosa. Serta Syahru Attarbiyah atau bulan pendidikan,” imbuhnya.

Sofyan Anif menjelaskan, ketika Ramadhan tiba, di dalamnya terdapat kewajiban menjalankan puasa bagi orang yang beriman. Sehingga Ramadhan membawa pengaruh terhadap perubahan perilaku menjadi orang bertakwa.

”Puasa mendidik kita menjadi orang yang sabar, disiplin, dan jujur. Sehingga dengan berpuasa, karakter dan perilaku kita berubah,” bebernya.

Sofyan menyebutkan, orang yang gemar menolong, bersedekah, mampu mengendalikan nafsu marah dan memaafkan sebelum dimintai maaf merupakan ciri-ciri orang beriman.

”Ciri orang beriman juga memiliki perubahan cara berpikir dan perubahan hati. Misalnya, menjadi lebih berempati, bisa menghormati orang yang lebih tua, dan menjunjung tinggi etika dan moralitas,” tandasnya. (zia/adi)

Editor : Adi Pras
#ums surakarta #Ibadah Puasa #Rektor UMS Sofyan Anif #ramadhan