Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Jam Matahari di Masjid Agung Surakarta Berusia 169 Tahun, Penentu Waktu Salat: Ini Cara Kerjanya

Mannisa Elfira • Kamis, 21 Maret 2024 | 03:58 WIB
Pengurus Masjid Agung Keraton Surakarta menunjukkan jam matahari di halaman masjid setempat, kemarin (20/3). Jam tersebut peninggalan Pakubuwono Ke VIII. (M.Ihsan/Radar Solo)
Pengurus Masjid Agung Keraton Surakarta menunjukkan jam matahari di halaman masjid setempat, kemarin (20/3). Jam tersebut peninggalan Pakubuwono Ke VIII. (M.Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Jemaah Masjid Agung Keraton Surakarta tentu sudah tidak asing dengan Jam Matahari atau Jam Istiwa' ini. Benda bersejarah peninggalan Pakubuwono Ke VIII ini dahulu digunakan untuk menentukan waktu ibadah salat, termasuk saat Ramadan.

Kini jam tersebut sudah tidak dipergunakan lagi. Mengingat zaman sekarang teknologi penentuan waktu sudah semakin maju.

”Kalau digunakannya tidak, karena sudah ada jadwal salat yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama. Yang juga berdasar oleh perhitungan matahari juga,” ujar Sekretaris Masjid Agung Keraton Surakarta Abdul Basid, Rabu (20/3/2024).

Kendati demikian, Basid menjelaskan jam matahari ini masih bisa digunakan. Jam ini efektif saat ada matahari yang bersinar. Namun saat mendung, bayangan tidak terlihat.

”Jadi ada dua metode. Metode pakai jarum bisa menunjukkan angka dan menit. Kalau berbentuk tongkat itu hanya bayangannya saja. Jadi misal tegak lurus tongkat yang ada garisnya ini, kalau semakin barat ini masuk waktu Ashar,” jelasnya.

”Nah kalau dahulu melihat Magrib dan Isya atau Subuh melihatnya dari menara. Jika bayangannya matahari masih kelihatan lamat-lamat (samar-samar, Red) itu Magrib. Tapi kalau sudah tidak bersinar itu Isya. Kalau terbit masuk Subuh. Jadi (jam matahari) ini hanya efektif untuk Duhur dan Ashar,” tambahnya.

Basid menambahkan jam ini dibangun ketika ada usulan dari ulama supaya lebih akurat. Tepatnya pada masa Pakubuwono Ke VIII sekira 1855.

”Ini namanya juga Jam Bencet. Ini sudah tidak digunakan ketika masa Pakubuwono ke X sekira 1900 karena sudah ada jam. Tapi ini tetap untuk pembanding, jadi masih berfungsi sampai sekarang. Karena matahari dari dulu sampai sekarang kan sama berputarnya,” ujarnya.

Jam ini juga menjadi daya tarik pariwisata. Sebagian pengunjung masih ada yang bertanya-tanya ke pengurus terkait jam tersebut.

”Masih sering tanya, ini apa. Kami menjelaskan bahwa ini jam Istiwa, patokan salat kita dengan matahari itu,” sambung Basid. (nis/adi)

Editor : Adi Pras
#keraton surakarta #Masjid Agung Surakarta #Pakubuwono Ke VIII #jam matahari solo