Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Perayaan Earth Hour dengan Gelar Aksi Pemadaman Lampu Satu Jam, Langkah Penting Memitigasi Iklim

Maulida Afifa Tri Fahyani • Minggu, 24 Maret 2024 | 04:44 WIB
Penyalaan lilin membentuk angka 60, menyimbolkan aksi pemadaman lampu selama 60 detik atau satu jam dalam rangka earth hour di salah satu hotel di Kota Solo, Sabtu malam.
Penyalaan lilin membentuk angka 60, menyimbolkan aksi pemadaman lampu selama 60 detik atau satu jam dalam rangka earth hour di salah satu hotel di Kota Solo, Sabtu malam.

RADARSOLO.COM - Earth Hour tahun ini jatuh pada Sabtu malam (23/3/2024). Berupa aksi pemadaman lampu selama satu jam. Aksi global yang diinisiasi World Wide Fund for Nature (WWF) tahun ini, mengangkat tema “Momen Terbesar untuk Bumi”.

Di mana fokus kegiatannya pada upaya memitigasi iklim. Aksi earth hour bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya perlindungan lingkungan.

Mereka mengajak berbagai komunitas, individu, instansi, maupun organisasi untuk berpartisipasi di dalamnya. Langkah ini merupakan salah satu upaya untuk memitigasi iklim. Di mana perubahan iklim saat ini semakin mengkhawatirkan.

“Program earth hour berusaha meningkatkan kesadaran tentang perubahan iklim, sekaligus mendorong tindakan mengurangi emisi gas rumah kaca. Salah satu dampak dari perubahan iklim adalah cuaca ekstrem, termasuk bencana alam,” ucap pemerhati masalah lingkungan sekaligus dosen pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) Siti Khoiriyah, Sabtu (23/3).

Siti menambahkan, krisis iklim membuat bumi semakin rentan akan ancaman yang berisiko pada kehidupan manusia. Mulai dari tingginya intensitas bencana alam hingga ketahanan pangan.

Seperti fenomena yang terjadi akhir-akhir ini. Bencana banjir melanda beberapa wilayah di Indonesia.

Salah satu yang paling menonjol adalah banjir bandang di kawasan pantai utara (Pantura) Jawa. Mulai dari Kota Semarang, Kabupaten Demak, Kudus, hingga Grobogan. Banjir bandang tersebut menggenangi ratusan rumah warga, hingga infrastruktur publik.

“Kondisi iklim yang terjadi saat ini akibat peningkatan suhu. Kemudian perubahan pola hujan, yang dampaknya seperti di Pantura. Beberapa wilayah terjadi banjir rob, karena penurunan tanah di dataran. Kemudian naiknya permukaan air laut karena pemanasan global,” imbuh Siti.

Krisis iklim tersebut dikhawatirkan mengancam sendi kehidupan manusia. Terutama munculnya berbagai penyakit. Termasuk penurunan produktivitas hasil pertanian karena terendam banjir. Pada akhirnya merembet ke perekonomian.

“Kuncinya kita harus mengurangi sesuatu yang membuat suhu bumi semakin panas. Bagaimana caranya? Bisa dengan mengurangi pemakaian listrik. Kemudian mengurangi penggunaan kendaran pribadi dan beralih ke transportasi umum,” papar Siti.

Siti berpesan agar gerakan earth hour ini tak sekadar mematikan lampu selama 60 detik. Namun lebih ke tindakan nyata masyarakat. Masyarakat diingatkan akan pentingnya konservasi energi. “Berupa mengurangi emisi karbon, hingga pelestarian lingkungan secara keseluruhan,” pesannya.

Sementara itu, Hotel Swiss-Belinn Saripetojo Solo berpartisipasi dalam aksi earth hour, tadi malam. Berupa penyalaan lilin membentuk angka 60 di lantai 5.

Dibarengi pemadaman lampu di sejumlah lantai selama 60 detik atau satu jam, mulai pukul 20.30.

“Kami mematikan lampu di public area, seperti lobi, garden, beberapa lantai kamar, tempat spa, restoran, tempat gym, dan yang lainnya. Tamu hotel juga berpartisipasi dengan berkumpul di garden,” kata Public Relation Excecutive Swiss-Belinn Saripetejo Solo Indah Ayu.

Selain itu, berbagai masakan dari tanaman hidroponik juga dihidangkan sebagai simbol mencintai alam. Termasuk fashion show dari siswa SMKN 4 Solo, yang memeragakan busana dengan bahan ramah lingkungan. (ul/fer)

Editor : Niko auglandy
#earth hour #wwf #pemadaman lampu