RADARSOLO.COM – Belum adanya tanda-tanda dari Pemkot Solo kapan mau meresmikan Pasar Mebel Mojo. Padahal pasar yang dibangun menggunakan anggaran Rp 22 miliar tersebut sudah ditempati puluhan pedagang sejak Desember 2023 lalu.
Sebelumnya puluhan pedagang eks Pasar Mebel Gilingan selama dua tahun terakhir menempati kios darurat di kawasan Banjarsari. Saat ini pedagang mulai menempati lokasi baru di lahan bekas pemakaman yang ada di wilayah Jebres itu.
Belum diresmikannya Pasar Mebel Mojo berdampak pada kurangnya promosi di pasar tersebut.
Merespons hal tersebut, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka punya alasan tersendiri kenapa belum dilakukannya peresmian pada pasar tersebut sampai saat ini.
“Ini biar penyesuaian dulu. Yang penting pedagangnya sudah masuk,” jawab Gibran, Minggu (24/3/2024).
Disinggung soal rusaknya sejumlah infrastruktur di dalam pasar yang terjadi beberapa waktu lalu, Gibran mengaku sudah mendengar kabar tersebut. Oleh sebab itu perbaikan pada bagian yang rusak terus dilakukan.
Menimbang saat ini juga masih masuk dalam masa perawatan, sehingga adapun kerusakan yang muncul masih menjadi tanggung jawab dari pelaksana proyek.
“Yang rusak-rusak akan diperbaiki,” singkatnya.
Kerusakan yang terjadi, antara lain tanah amblas dan bangunan yang sudah retak-retak. Pedagang setempat juga mengkritik konsep dan desain dari bangunan pasar yang sejatinya tidak cocok digunakan untuk pedagang mebel.
Bangunan yang terbuka dengan bukaan dan atap yang tinggi membuat air hujan masuk ke dalam kios.
Mengkhawatirkan mengingat air hujan langsung mengarah ke produk mebel siap jual. Hal ini memicu kerusakan atau menambah biaya produksi karena karus dilakukan finishing ulang.
“Desain bangunan dikritik pedagang? Nanti akan kami tindaklanjuti ya terkait tampias dan yang lain-lain,” beber Gibran.
Salah seorang pedagang Pasar Mebel Mojo, Mardiyanto mengiyakan kalau desain pasar yang baru memang kurang cocok untuk pedagang mebel.
"Kok malah dibuatkan bangunan seperti ini. Miminal diberi tutup keong (penutup ventilasi dari tiang kea tap, Red) dan diberi talang ini yang paling memungkinkan,” uiarnya. (ves/nik)
Editor : Niko auglandy