RADARSOLO.COM – Wakil Wali (Wawali) Kota Solo Teguh Prakosa menilai, perputaran uang selama Ramadan dan Idul Fitri 1445 Hijriah secara signifikan mengerek pertumbuhan ekonomi. Terutama bagi para pelaku usaha. Sayangnya, ini tidak dibarengi dengan ketertiban membayar pajak.
Teguh menjelaskan, dari sisi pendapatan, momentum Ramadan dan Lebaran ini lebih besar dibanding tahun lalu. Sehingga banyak sektor yang berpotensi mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) Kota Bengawan.
“Karena kan (cuti) harinya lebih panjang. Nanti akan kelihatan pendapatan itu dari sektor mana saja. Dampak dari Lebaran ini kan banyak. Misalnya sektor wisata, perhotelan, dan rumah makan,” kata Teguh, Minggu (14/4).
Teguh mengaku pendapatan terbesar berasal dari sektor kuliner. Namun, peningkatan ekonomi baru dirasakan masyarakat. Belum bisa terserap optimal di PAD.
“Belum tertib pajak. Mestinya pada waktu kegiatan di balai kota selama sebulan, pedagangnya dicek. Apakah orang Solo semua atau bukan? Harusnya ketika pedagang datang, mereka tidak kena palak lahan dari orang-orang kampung. Harusnya itu masuk ke pajak,” imbuhnya.
Teguh berharap, hilangnya PAD tersebut mendorong Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Solo agar lebih menyoroti pajak pendapatan dari pelaku usaha. Khususnya pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dengan omzet di atas Rp 7,5 juta per bulan.
“Contohnya kuliner tahu kupat. Pasti saat Lebaran ini ramai. Saya perkirakan omzetnya bisa mencapai Rp 7,5 juta-Rp 10 juta. Harusnya (pelaku usaha) bisa terbuka soal pajak pendapatan,” papar Teguh.
Selain itu, bapenda harus punya standar operasional prosedur (SOP), sebagai acuan baku bagi para pelaku usaha. Dengan catatan SOP tersebut tidak memukul rata seluruh UMKM.
“Karena kasihan (UMKM) yang pendapatannya tidak mencapai Rp 7,5 juta-Rp 10 juta. Kalau itu bisa dilakukan, maka tertib pajak bisa tercapai,” tandasnya.
Sementara itu, Teguh juga memelototi hilangnya PAD dari sektor perparkiran. Terutama ulah juri parkir (jukir liar).
“Pendapatan dari parkir ini perlu manajemen yang lebih baik. Saya melihat, di Solo itu ngeri. Orang bangun tidur pinjam baju parkirnya siapa (sudah dapat penghasilan), tetapi dia belum tertib wajib setoran parkir,” bebernya. (zia/fer)
Editor : fery ardi susanto