RADARSOLO.COM - Rombongan program mudik gratis dari Kementrian Perhubungan (Kemenhub) secara serempak diberangkatkan Senin (15/4/2024) pagi dari sembilan terminal. Seperti yang terlihat di Terminal Tipe A Tirtonadi, rasa puas bisa berkumpul dengan keluarga besar di kampung halaman terlihat jelas dari wajah para pemudik.
Salah seorangnya Wijiati, 53, warga Cengkareng, Jakarta Barat yang baru saja mudik di Purwantoro, Kabupaten Wonogiri. Sudah dua kali dia pulang kampung memanfaatkan program mudik gratis.
Tahun lalu dia mengikuti program dari BUMN, dan tahun ini ikut program Kemenhub.
Wijiati bersyukur sekali ada program ini.
"Sekarang harga tiket bus sekali berangkat sekira Rp 400 ribu, berarti PP (pulang-pergi) Rp 800 ribuan. Padahal sekali mudik saya empat orang. Lumayan (efisiensi pendanaam karena ikut mudik gratis), jadi uang tiketnya bisa buat beli oleh-oleh keluarga di kampung," ungkap wanita yang berangkat mudik bersama anak, menantu, dan cucunya ini.
Apakah mengalami kesulitan mencari kuota mudik gratis? Ternyata tidak juga.
"Carinya lewat online, jadi anak saya yang mencarikan. Kayaknya mudah, wong hari pertama dibuka anak saya langsung dapat, terus saya suruh ngumpulin KTP sama KK. Perjalanan sekitar 12 jam waktu berangkat," ucapnya.
Dia berharap program mudik gratis seperti ini bisa terus digelar setiap tahunnya oleh pemerintah, sehingga bisa membantu warga perantau.
Dijumpai usai melepas para pemudik, Direktur Prasarana Transportasi Jalan Ditjen Perhubungan Darat Tony Tauladan menyampaikan, untuk arus balik ini dilakukan serempak di sembilan kota. Antara lain Solo, Jogjakarta, Semarang, Wonogiri, Purwokerto, Madiun Surabaya, Cirebon, dan Palembang.
"Total ada 950 bus yang berangkat. Sedangkan untuk Solo ini diberangkatkan 26 bus, dengan jumlah penumpang sekitar 1.056 orang," tuturnya
Mudik gratis, lanjut Tony, merupakan upaya pemerintah untuk memecah kemacetan selama arus mudik dan balik lebaran. Sebab mudik ini merupakan tradisi dari tahun ke tahun, di mana setiap pergerakannya bisa memicu kemacetan.
Untuk mengantisipasi kepadatan itu, upaya penguraian dilakukan. Bukan hanya memilah dengan rekayasa lalu lintas, namun juga dengan waktu.
"Secara waktu upayanya dengan mudik gratis, di mana pemberangkatannya di luar puncak arus mudik dan balik. Kemudian juga agar masyarakat beralih dari mudik menggunakan kendaraan pribadi, menggunakan angkutan umum," urai Tony. (atn/nik)
Editor : Niko auglandy