RADARSOLO.COM -- Buruh di Kota Solo tampak adem ayem. Tidak ada demo atau aksi turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi mereka. Ternyata mereka punya cara tersendiri untuk menyampaikan aspirasinya.
Ketua DPC Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) 92 Solo Endang Setiowati menegaskan, meski tidak melakukan aksi di daerah, perwakilan SBSI pusat turun serta dalam gelombang unjuk rasa Hari Buruh di Patung Kuda Jakarta.
“Kami bersama pengurus daerah tetap berjuang meskipun tidak dengan aksi. Caranya denga pendekatan audiensi dan koordinasi dengan dengan pengusaha maupun pemerintah,” kata Endang, Rabu (1/5).
Hingga hari ini pihaknya masih berpijak dalam semangat yang sama dengan semua organisasi buruh dan pekerja dengan menolak keras UU Cipta Kerja. Di mana UU itu justru tidak menyejahterakan buruh dan pekerja. Selain itu mereka juga mengecam masih berjalannya praktik upah murah.
“SBSI mendesak pencabutan atau revisi UU Cipta Kerja beserta turunannya karena tidak pro dengan kaum buruh dan pekerja. Ini termasuk soal PP 36 yang tata kelolanya tidak jelas dan upahnya jauh dari layak,” tegas Endang.
Senada, Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kota Solo Wahyu Rahadi juga menegaskan bahwa semangat perjuangan kaum pekerja dan buruh masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya yakni menuntut penghidupan yang lebih layak melalui aturan-aturan main dan pengupahan yang lebih bisa menyejahterakan.
Sebab itu, SPSI tegas menolak UU Cipta Kerja, praktik upah murah, dan kebijakan outsourcing yang diterapkan hingga saat ini.
“Hal-hal ini masih jadi fokus utama yang selalu teman-teman perjuangkan sejak lima tahun terkahir ini. UU Cipta Kerja memang cukup memberatkan. Apalagi setelah adanya PP 51/2023 yang membatasi penghitungan upah buruh. Kemudian praktik upah murah masih banyak ditemukan, banyak buruh yang dikontrak dengan status outsourcing, dan sebagainya. Ini problem besar kita di tahun ini,” tegas Wahyu.
Terpisah, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Solo Widyastuti Pratiwiningsih menilai meski tidak ada aksi turun ke jalan bukan berarti kehidupan buruh di Solo sudah sejahtera.
WIdyastuti mendorong agar para pekerja lebih mengutamakan dialog dan audiensi dalam menyelesaikan berbagai perasalahan soal perburuhan.
“Meski masih jauh dari harapan, pemerintah terus mengupayakan untuk meningkatkan kesejahteraan buruh setiap tahunnya,” ucap dia. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno