RADARSOLO.COM - Pulau Bali dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia. Tak ayal, potensi kerajinan kriyanya cukup beragam dan punya nilai jual tinggi.
Hal itu seperti terlihat dalam gelaran Expo Dekranas 2024 di Pamedan Pura Mangkunegaran, Rabu-Sabtu (15-18/5). Delegasi dekranasda asal Pulau Dewata ini membawa berbagai jenis kerajinan yang menarik perhatian pengunjung.
Niluh Ayu Sinta Dewi, salah seorang perwakilan pengrajin asal Bali mengatakan, kerajinan berupa perhiasan khas Bali merupakan salah satu potensi yang diunggulkan di daerahnya. Mengingat di Provinsi Bali terdapat daerah bernama Desa Celuk. Di mana mayoritas warganya merupakan pengrajin perak.
"Kami membawa berbagai kriya, salah satunya perhiasan berbahan dari perak dan ada juga yang dilapisi emas. Ada bentuk bros, anting, cincin, gelang, pulpen perak, kalung mutiara, dan gelang mutiara. Kemudian ada tusuk konde dan juga pin," terang Niluh kepada Jawa Pos Radar Solo.
Niluh mengatakan, macam-macam perhiasan itu biasa digunakan masyarakat Bali untuk berbagai acara. Baik casual maupun acara adat. Pernak-pernik itupun kerap menjadi incaran wisatawan kala berkunjung ke Bali.
Tak hanya pernak-pernik, kain songket jembrana khas Bali bagian barat juga dipamerkan pada gelaran Dekranas ini. Termasuk tenun ikat Gringsing, yang menjadi kain satu-satunya asal Pulau Dewata. Sebab pengerjaannya yang terbuat dari bahan alam dan memakan proses panjang.
"Songket Jembrana ini memang motif khas Bali barat. Kalau Gringsing merupakan tenun double ikat satu-satunya yang ada di Bali. Proses pembuatannya bisa sampai enam bulan karena pakai bahan alam," jelas Niluh
Selain dari tingkat provinsi, kerajinan asal Kabupaten Bangli turut serta pada expo Dekranas. Daerah yang terletak di tengah Provinsi Bali ini membawa kriya unggulan. Berupa anyaman bambu beraneka bentuk.
"Kami membawa anyaman bambu berbentuk tas, tikar, dekorasi lampu, hiasan dinding, parcel yang dilukis dengan motif Mandala khas Bali," terang Perwakilan Anggota Dekranasda Kabupaten Bangli I Nyoman Susila.
Sementara itu, tak jauh dari Pulau Dewata, perwakilan asal Banyuwangi juga turut membawa ragam produk kerajinan lokalnya. Mulai dari kue kering, kerajinan dompet dan tas dari kulit ular,. Termasuk berbagai cenderamata lainnya, seperti gantungan kunci, gelang, dan dompet rajut.
Perwakilan delegasi Dekranasda Banyuwangi Umi Sukasih mengatakan, dia juga membawa potensi unggulan khas daerah pesisir. Yakni produk pangan sarden ikan tuna sebagai salah satu ikon wisata.
"Sebagai kawasan pesisir, Kabupaten Banyuwangi banyak menghasilkan ikan tuna. Seperti Pantai Muncar yang menjadi sentra pengalengan ikan terbesar di Banyuwangi," ujar Umi. (ul/nik)
Editor : Niko auglandy