RADARSOLO.COM – Fenomena bladu atau tercemarnya sungai karena limbah cair yang menyebabkan ikan-ikan terkapar membuat waswas. Terutama bagi operasional instalasi pengelolaan air (IPA) milik PDAM Kota Solo seperti kasus setiap musim kemarau.
Berdasarkan catatan koran ini, sepanjang musim kemarau tahun lalu PDAM Kota Solo sempat terdampak hinga harus menghentikan operasional IPA Semanggi saat kemarau pajan tahun lalu.
Hal ini disebabkan debit air Sungai Bengawan Solo turun drastis sehingga kadar polutan dalam air sungai jadi lebih pekat dan tak bisa diolah menjadi air bersih.
Mengantisipasi kasus itu terjadi kembali, PDAM Solo berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) selaku pengelola sungai tersebut.
“Kami (PDAM Solo) hanya pengguna yang dapat izin dari BBWSBS dan membayar retribusi kepada Perum Jasa Tirta selaku pengelola Waduk Gajah Mungkur,” terang Bayu.
Alurnya bila terjadi pencemaran hingga berdampak IPA tidak bisa beroperasi normal, maka PDAM akan berkoordinasi dengan BBWSBS dan Perum Jasa Tirita.
“Penegakan hukum menjadi tanggung jawab pemangku kebijakan, regulasinya ada di pemerintah daerah dan penegak hukum. Kami tidak bisa berbuat banyak selain berkoordinasi,” papar dia.
Berdasarkan informasi warga sekitar fenomena bladu yang terlihat di aliran Sungai Bengawan Solo khususnya di wilayah Sangkrah, Sewu, dan Pucang Sawit wilayah Kota Solo, sudah terjadi tiga kali di awal kemarau kali ini. Pertama terjadi di akhir April lalu, dan dua kali terjadi di sepanjang Mei ini.
“Bladu ini limbah dari Kali Samin. Kemungkinan besar dari Industri alkohol, warna sungai jadi cokelat tua dan ikan kesulitan bernapas,” ujar Budi Utomo, ketua Forum Jogo Kali Bengawan Solo. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno