Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Soal Larangan Study Tour: Asosiasi Biro Wisata Bersuara, Begini Sikap Mereka

Silvester Kurniawan • Senin, 20 Mei 2024 | 04:30 WIB
Bus wisata harus benar-benar menjamin siap layak jalan sebelum digunakan.
Bus wisata harus benar-benar menjamin siap layak jalan sebelum digunakan.

RADARSOLO.COM -- Buntut larangan study tour Disdikbud Jateng bagi SMA/SMK negeri dirasakan para pelaku jasa perjalanan wisata. Mereka menilai kebijakan itu perlu dikaji ulang.

Ketua Association of Indonesia Tours & Travel Agencies (Asita) Kota Solo Mirza Ananda menyayangkan larangan study tour dari Disdikbud Jateng itu. Kebijakan ini dinilai tidak subtantif.

“Saya rasa ini kebijakan emosional yang tanpa dasar. Penyebab utamanya kan bukan study tour-nya tapi soal ketidaklayakan armadanya,” tegas dia, Minggu (19/5).

Asita berpandangan dinas terkait mestinya lebih jeli dalam hal penunjukkan penyedia jasa layanan transportasi yang hendak digunakan.

Tidak hanya fokus pada kegiatan study tour yang memiliki dampak cukup besar terhadap pelaku usaha di bisnis tour kepariwisataan.

Study tour jadi salah satu market terbesar perusahaan transportasi. Market dari pelajar diperkirakan 50-60 persen dari semua pemasukan. Multiplier effect-nya terlalu besar kalau harus ditutup,” hemat Mirza.

Mirza meminta dinas terkait melakukan instrospeksi terhadap larangan study tour. Sejatinya kebijakan dalam pemilihan vendor atau penyedia layanan yang harus lebih dikritisi daripada melarang study tour. Misalnya teknis pemilihan vendor apakah sudah benar atau belum dan teknis lainnya.

“Rata-rata 50-60 persen pelanggan (tour) dari SD hingga universitas. Setahun kami bisa berangkatkan 3-5 ribu orang. Nah, harusnya ini menjadi bahan pertimbangan juga,” terang dia.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Biro Wisata Sragen (Abiwisra) Iksanudin membenarkan, imbas pelarangan study tour buntut kejadian di Subang itu berdampak pada pelaku usaha dan jasa yang bergerak di bidang serupa.

Seperti kegiatan yang sudah terjadwal di beberapa penyedia jasa ada sedikit perubahan. Namun juga ada hikmah di balik itu. Seperti penyedia jasa biro perjalanan pariwisata harus kerja keras. Kemudian kroscek ulang terkait kesiapan bus soal kenyamanan dan rute perjalanan.

”Setelah kejadian itu, permintaan dari konsumen bertambah seperti kelayakan jalan bus dan rute. Hikmahnya bagi biro juga positif untuk mengecek ulang standar keamanan,” terangnya Rabu (15/5).

Soal larangan study tour akan berdampak pada biro yang sudah menjalin kesepakatan dengan sekolah.

 ”Mungkin kalau sudah terjadwal, seperti sudah deposit hotel, catering dan sebagainya, menjadi waswas. Khawatir yang sudah dikerjakan ikut tertunda,” jelas dia. (ves/din/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#disdikbud jateng #study tour #sma/smk negeri #market #asita