RADARSOLO.COM - Wacana Solo Sport City yang disodorkan pemkot mendapat respons positef dari berbagai kalangan. Konsep ini dipandang selaras dengan sport tourism. Berpotensi menggenjot perekonomian di Kota Solo.
Ketua Asita Kota Solo Mirza Ananda mengatakan, konsep sport city dan sport tourism saling berkaitan. Dan Kota Solo sudah sangat memenuhi syarat untuk menuju ke sana.
“Kalau dilihat dari destinasi, venue, infrastruktur Solo sudah mumpuni. Terbukti sudah banyak event sport yang terselenggara dengan baik. Ke depan yang perlu digenjot SDM (sumber daya manusia),” terang Mirza, Minggu (2/6).
Sebagai contoh, sambung dia, dalam penyelenggaraan beberapa event olahraga di Solo banyak menggunakan SDM dari luar daerah. Hal-hal seperti ini ke depan juga harus dimiliki Solo agar bisa memaksimalkan potensi lokalnya.
“Misalnya event maraton, sejauh ini LO-nya masih ambil dari luar Solo. Ke depan harus lebih ready soal event seperti ini. Semua harus terintegrasi semua. Harus bersamaan, termasuk dengan promosi dan lainnya,” ujar dia.
Selain itu, koordinasi antarwilayah, antarpemangku kebijakan juga perlu dilakukan agar tidak ada kendala di lapangan. Sebab, seringkali event lintas daerah terkendala soal kebijakan daerah satu dengan lainnya berbeda.
“Kemarin kami masih mendapatkan hambatan misalnya saat mau gelar maraton 10 km dari Jalan Slamet Riyadi sampai Kartasura saja masih belum bisa karena adanya perbedaan kebijakan. Hal-hal seperti ini yang mestinya segera dicari solusinya agar sport city dan sport tourism makin baik,” harap Mirza.
Ketua Komunitas Lari Nona Runner Solo Artha Listya mengungkapkan, seiring banyaknya event olahraga yang dihelat di Solo banyak masyarakat yang mulai mempertimbangkan kebutuhan akan olahraga.
Hal itu tentu tidak lepas banyaknya spot-spot olahraga baru yang representatif untuk penyelenggaraan berbagai event. Salah satunya yang paling rutin digelar adalah giat lari marathon yang kerap digelar di Kota Bengawan dalam beberapa tahun terakhir.
“Saya perhatikan sekarang banyak pelari-pelari baru yang gabung. Mungkin ini pengaruh banyak artis yang berpartisipasi dalam race. Influencer olahraga juga banyak bermunculan dan makin aktif untuk memeriahkan event seperti itu di Solo,” hemat dia.
Dalam beberapa tahun belakangan, dia melihat intensitas kegiatan lari di Solo makin masif. Banyak juga sponsor-sponsor yang biasa menggelar event sejenis di kota besar mulai melirik Solo. Hal ini membuat iklim olahraga lari di Solo makin terbentuk dengan baik dengan banyaknya venue-venue unggulan dan alternatifnya.
Dia berpandangan jika event ini terus dikemas lebih baik makan akan memberikan dampak yang besar, termasuk dalam hal perekonomian.
“Race lari yang dibikin di Solo ternyata banyak diminati pelari-pelari dari luar kota. Minimal sehari pasti menginap di Solo kan, jadi mambantu perputaran ekonomi lokal,” kata dia.
Hal serupa disampaikan salah satu pengusaha apparel olahraga asal Solo, Dimas Yustisia Putra. Dia menilai Solo sangat cocok untuk didorong menjadi Kota Olahraga. Pasca Piala Dunia U-17 lalu, banyak lapangan sepakbola di Solo berstandar internasional. Ini memberikan dapak positif bagi Kota Solo.
“Lapangan-lapangan berstandar internasional di Solo itu kan boleh disewa untuk umum. Banyak pemain-pemain fun football dari luar kota datang ke Solo untuk merasakan sensasi main di lapangan kualitas tinggi itu. Artinya sport city dan sport tourism sudah terkoneksi dengan baik, tinggal bagaimana mensinergikan,” terang dia.
Sebagai pelaku bisnis di bidang sport apparel, Dimas melihat adanya pelung dalam gagasan sport city dan sport tourism itu. Hal tersebut tentu bakal berdampak pada para pelaku usaha yang ada di dalamya. Mulai dari bisnis pakaian dan perangkat olahraga merchandise dan sebagainya.
“Harapannya peluang agar UMKM bisa masuk bisa dibuka lebar-lebar. Misalnya Piala Dunia U-17 lalu atau AFF U-16 yang akan datang, pemerintah bisa mengandeng UMKM di Solo untuk jadi rekanan. Baik dalam pembuatan merchandise resmi atau pun produsen lokal. Jadi UMKM lokal yang bergrak di industri olahraga juga bisa terbantu secara branding pasca event selesai,” harap Dimas. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno