RADARSOLO.COM – Kota Solo dibidik kedepannya akan jadi kota olahraga. Anggota Komisi IV DPRD Kota Solo Ginda Ferachtriawan mengatakan, sebenarnya Solo ini sudah termasuk dalam kategori tujuan wisata olahraga. Dia menyontohkan pertandingan sepak bola.
Dia melihat animo suporter datang ke Manahan sangat tinggi. Jumlah yang datang bisa lebih dari 100 ribu orang selama pergelaran Liga 1 musim lalu.
"Tidak hanya (pertandingan) Persis Solo, PSS Sleman kan sementara mainnya di Manahan. Jadi jumlah suporter yang datang juga tidak kalah banyak. Kemudian Piala Dunia U-17 dan AFC beberapa waktu lalu juga banyak yang datang," ujarnya.
"Kemudian ada dua event lari yang juga sudah berjalan, animonya juga tinggi. Sehingga yang perlu disiapkan. Jadi ketika mereka (peserta dan penonton) datang, tidak sekadar mengikuti event-nya saja, namun bisa stay di Solo dalam kurun waktu yang lama," paparnya.
Ginda serujuk, bila masalah SDM ini tinggal menunggu waktu. Bagaimana pemerintah bisa lebih memudahkan EO lokal untuk memanfaatkan momen ini.
"Misal kalau EO dari Jakarta mungkin kerjanya lebih bagus, kami tinggal beri pelatihan kepada EO lokalnya. Bagaimana SOP-nya, sehingga EO lokal bisa berpartisipasi," ungkap Ginda.
Untuk menjadi kota sport tourism, lanjut Ginda, tidak perlu melulu mengadakan event. Tinggal bagaimana mengelola fasilitas olahraga yang ada di Solo bisa lebih hidup. "Misal ada jalur lari yang melintasi tempat-tempat wisata Solo. Kita tahu, kendalanya ketika lari memutari Kota Solo harus bersinggungan dengan kendaraan bermotor," ujarnya.
"Kemudian ada beberapa trotoar atau citywalk yang sebenarnya menjadi hak pejalan kaki, yang itu bisa juga digunakan untuk jogging, namun dijadikan lokasi parkir. Ini juga jadi kendala juga," ungkap Ginda.
Sementara itu anggota komisi IV lainnya Asih Sunjoto menuturkan tidak bisa dipungkiri Kota Bengawan memiliki fasilitas yang lengkap untuk menunjang event olahraga. Baik kelas lokal hingga internasional. Untuk mengejar status sebagai kota olahraga, dia menghimbau kedepan pemkot harus menyiapkan SDM dari lokal Solo.
"Maka perlu ada pelatihan, ini penting, karena Solo ini tidak kekurangan komunitas olahraga. Ini perlu dioptimalkan. Kemudian bila ada lembaga, instansi, atau perusahaan yang mau menggelar event olahraga, bisa disodorkan komunitas binaan pemkot ini," ujarnya.
Dia menilai, para komunitas bukan sekadar menjadi peserta, namun dimaksimalkan untuk bisa ikut menyiapkan kesuksesan acara tersebut. “Sehingga benar-benar menjadi sport tourism. Jangan malah EO-nya orang luar, tapi pesertanya Solo, sama saja bukan wisata itu," ujarnya.
Soal koordinasi lintas wilayah, politikus PKS ini mengatakan klub-klub olahraga di Kota Solo memang wajib diikutsertakan untuk kemajuan olahraga di kota ini.
Disinggung soal fasilitas lokasi olahraga di Solo, dia menilai sudah bagus. Hanya tinggal bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan saja.
"Kemudian memudahkan masyarakat untuk mengakses tempat-tempat olahraga di Solo. Tidak dipersulit izinnya. Kita tahu, ada beberapa lapangan yang eksklusif, yang direvitalisasi oleh FIFA. Saya tidak tahu persis, apakah itu bisa digunakan masyarakat umum atau tidak. Tapi saya kira seharusnya boleh. Tinggal masyarakat diberi tahu aturan mainnya saja ketika menggunakan lapangan tersebut," urainya. (atn/nik)
Editor : Niko auglandy