RADARSOLO.COM - Masifnya digitalisasi, di satu sisi memang sangat membantu dan memudahkan manusia. Namun di sisi lain, digitalisasi membuat anak-anak kurang peduli bahkan meninggalkan nilai tradisi.
Atas dasar itulah, Metakultura Lokananta menggelar agenda Hompimpa, Sabtu (15/6).
Acara tahunan, yang kali ini turut menghadirkan maestro tari Didik Nini Thowok, dihelat untuk mengajak para remaja mengenal budaya asli Jawa.
Program Director Metakultura Lokananta Antonia Filicia Esa Rindi menjelaskan, awalnya Hompimpa merupakan summer camp yang dibentuk pada tahun 2022. Tujuannya mengisi hari libur anak sekolah.
"Jadi kita kumpulin anak-anak sampai remaja usia SD sampai SMP. Di situ kita bermain, cuma permainannya lebih ke arah dolanan tradisional," katanya di sela-sela kegiatan.
Dari situ terungkap fakta bahwa anak-anak dan remaja tersebut tidak banyak mengenal mengenai dolanan tradisional.
"Tapi lama kelamaan mereka jadi interest dengan ragam permainan tradisonal. Apalagi itu masa transisi Covid-19 ya. Terjadi dragadasi moral cukup tinggi. Hari-hari mereka dihabiskan dengan gadget karena adanya pembatasan saat itu," urai Esa.
Diakui dia, dari sana penyelenggara pun makin semangat mengenalkan dolanan tradisional kepada anak-anak dan remaja peserta Hompimpa.
Tak disangka, mereka mulai tertarik dan ingin tahu lebih dalam mengenai dolanan tradisional.
Meski diakui, kekompakan saat memainkan dolanan tradisional tersebut masih kurang. Sebab para remaja ini memiliki sifat individual yang tinggi.
"Jadi kita ingin mereka ini bersosialisasi. Karena permainan tradisonal itu hampir tidak ada yang bisa dimainkan sendiri," ujarnya.
Event Manager Metakultura Lokananta Nanang Musha menjelaskan, pada event tahun ini, ada sejumlah materi yang diberikan.
Antara lain Lokakarya Tari Tradisonal dari Didik Nini Thowok, Tembang Nusantara oleh Raden Mas Singgih Sanjaya, dan Tembang Dolanan oleh Rumania Ruma.
Selain itu, ada pengenalan permainan tradional yang dibawakan Antonia Filicia Esa Rindi. Hingga belajar masakan tradional oleh perwakilan ibu-ibu PKK Kota Solo.
"Kemudian kita ajak mereka tur Lokananta. Jadi apa yang kita ajarkan ini semua murni nilai-nilai tradisonal yang punya filosfinya sendiri-sendiri," kata Nanang.
Lebih lanjut dia menjabarkan, para siswa peserta Hompimpa telah dibagi menjadi beberapa kelompok.
Dalam waktu sepekan mereka akan membuat video pendek hasil dari workshop yang telah diberikan.
"Jadi harapan kami, setelah dari sini bukan berarti mereka tidak bertemu lagi. Namun bagaimana mereka ke depan tetap bisa berinteraksi," ucap dia.
Sementara maestro tari Didik Nini Thowok dalam kesempatan kali ini tidak hanya menjelaskan terkait tari tradisional.
Namun juga mengenalkan cross gencer dance. Sebab, diakui dia, banyak yang masih salah kaprah dalam mengartikannya.
"Jadi ketika pria ada yang menarikan tarian wanita atau sebaliknya, itu dianggap LGBT. Padahal semua itu ada pakemnya," tuturnya.
Didik Nini Thowok menyampaikan, di zaman kerajaan, para wanita dilarang untuk menari di muka umum. Sehingga para pria yang disuguhkan untuk menari di khalayak ramai.
Lebih lanjut, bila ditarik ke arah tradisi, dalam konteks ritual wanita juga tidak boleh menari dalam keadaan menstruasi.
"Bahkan di Keraton Jogja pun sebelum zaman Hamengkubuwana ke-V, semua yang menari laki-laki. Penari perempuan itu baru muncul diawal abat ke-20," kata dia.
"Oleh karena itu, pemahanan ini perlu kita tanamkan malah sedari dini seperti ini. Sebab ketika sudah dewasa, akan sulit mengubah pemahaman tersebut," imbuh dia.
Sebagai pelaku tradisi, Didik Nini Thowok tak menampik bila anak-anak hingga remaja saat ini mulai meninggalkan nilai-nilai tradisonal karena dinilai ketinggalan zaman.
Mereka lebih memilih moderenisasi dan mendalami tradisi dari luar.
"Seperti salam saja, anak-anak sekarang lebih kenal gerakan salam Saranghaeyo. Padahal kita punya gerakan salam budaya," tuturnya.
Untuk itu, imbuh dia, acara-acara seperti Hompimpa ini harus semakin digiatkan dan dimasifkan.
"Kalau ditunda-tunda, bisa saja generasi setelah kita tidak tahu tari tradisional, tidak tahu lagu tradisional kita apa saja, makanan asli jawa itu apa," papar dia.
Dia menambahkan, dengan mengenalkan nilai tradisi, maka generasi muda ke depan tetap akan membangun rasa nasionalisme serta rasa memiliki budaya. (atn/ria)
Editor : Syahaamah Fikria