RADARSOLO.COM – Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Solo dan Kabupaten Klaten, tidak bisa melayani pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, Sabtu (15/6). Setelah terjadi kekosongan stok, yang berujung keluhan dari konsumen.
Pantauan Jawa Pos Radar Solo, sejumlah SPBU di Kota Solo tidak melayani pembelian solar. Di antaranya SPBU 44.571.26 Cengklik, Nusukan, Banjarsari. Terlihat petugas SPBU memasang papan pemberitahuan, bahwa solar habis.
Tidak hanya itu, dua SPBU lainnya juga kehabisan stok solar. Yakni SPBU 44.571.24 Balapan dan SPBU 44.571.09 Jurug. Di dua titik tersebut, juga terpasang papan pengumuman solar habis.
Saat dikonfirmasi, Manajer SPBU Jurug Edy Kistoro membenarkan kehabisan stok solar. Dampak dari penerapan sistem pengiriman baru yang diterapkan PT Pertamina.
“Jadi namanya auto schedule. Jadi bukan solar saja yan terlambat. Namun pertalite dan pertamax juga terlambat (dikirim),” jelas Edy.
Edy menduga, armada pengiriman BBM terbatas dan harus mengakomodasi banyak SPBU se Solo Raya. Sehingga SPBU Jurug tidak kebagian jatah solar.
“Ya mungkin karena masih sistem baru, jadi belum terbiasa. Baru hari ini saja (stok solar habis). Mungkin besok (Minggu, 15/6) sudah ada stok untuk kami. Tapi tidak tahu diantar kapan? Kami masih nunggu dan jadwalnya baru keluar nanti malam,” imbuh Edy.
Habisnya stok solar di sejumlah SPBU dirasakan sopir truk Danang Hariadi. Dia mengaku kebingung saat hendak mengisi solar. Rencananya, dia hendak mengirim muatan keramik dari Ngawi, Jawa Timur ke Jogja.
“Sepanjang jalan tadi tulisannya solar habis. Ini berhenti dulu, soalnya belum ngisi solar. Takutnya kehabisan di jalan. Mau minta sama sopir lain, siapa tahu bawa cadangan solar. Ini kernet saya juga sedang muter cari solar, diantar yang punya warung di depan,” ujar Danang saat ditemui di pinggir Jalan Ringroad Mojosongo.
Karena kesulitan mencari solar, praktis Danang mengalami kerugian. Terutama waktu pengiriman barang menjadi molor.
“Seharunya sudah sampai (Jogja), tapi ini berhenti dulu di Solo. Padahal sudah di WA (WhtasApp) terus, kapan pengiriman keramik datangnya. Saya jadi diprotes sama bos dan yang pesan keramik,” keluhnya.
Di sisi lain, sejumlah SPBU di Klaten juga kehabisan stok solar, kemarin. Salah satunya di SPBU Desa Klepu, Kecamtan Ceper, Klaten. SPBU ini berada di Jalan Solo-Jogja. Tampak di sisi kanan-kiri SPBU dipasang pengumuman bahwa solar habis.
Selain itu, dispenser khusus solar di SPBU tersebut juga tidak dijaga petugas. Juga tidak ada kendaraan diesel yang mengantre, karena sudah tahu stok solar kosong.
Kondisi serupa juga terjadi di SPBU Desa Jonggrangan, Kecamatan Klaten Utara. SPBU ini juga berada di Jalan Solo-Jogja. Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Organisasi Angkutan Darat (Organda) Klaten Agus Supriyanto mengaku sejauh ini belum ada keluhan dari pengusaha angkutan di Kota Bersinar.
Kendati demikian, Agus berharap pemerintah segera mengambil kebijakan terkait pasokan BBM. Terutama terkait distribusi dan penjualanya.
“Organda sebenarnya berharap kepada pemerintah untuk memberikan kebijakan khusus. Supaya distribusi dan penjualan solar dipermudah,” harapnya.
Diakui Agus, sistem pembelian solar saat ini menyulitkan pemilik kendaraan. Karena harus mendaftar terlebih dahulu melalui aplikasi, dengan berbagai persyaratan.
Kemudian saat membeli solar, harus menunjukan QR code kepada petugas SPBU. Plus adanya pembatasan pembelian solar subsidi untuk setiap kendaraan. “Adanya aplikasi itu menjadi kendala saat hendak isi solar,” bebernya. (atn/ren/fer)
Editor : fery ardi susanto